
Tampilkan postingan dengan label Sosial Dan Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Dan Budaya. Tampilkan semua postingan
NAOR LANO

Salam pengunjung setia heartofpapua.com
Doa kami Anda semua tetap sejahtera dan senantiasa dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih pada semua makhlukNya.
Kami sadar bahwa ada diantara anda yang setelah membaca artikel-artikel yang kami sajikan, lantas menjadi marah dan kemudian menjadi benci kepada orang-orang Muslim atau kepada ajaran Islam.
Namun demikian, kami harap anda bisa dengan bijak membedakan antara Muslim dan Islam. Musuh kita bukanlah orang Muslim yang sejatinya harus kita kasihi karena mereka pun sama seperti kita adalah sama-sama diciptakan oleh Tuhan. Musuh kita adalah Ideologi Islam yang diajarkan oleh Muhammad, dan yang telah menyebabkan begitu banyak kekerasan, kebencian, pembunuhan keji serta kerusakan parah atas bumi ini sejak agama ini dilahirkan.
Jika anda setelah membaca artikel-artikel di situs ini kemudian menjadi pembenci Muslim, maka kami anggap usaha kami untuk memberikan pencerahan kepada anda telah gagal.
Tapi jika setelah membaca artikel-artikel ini justru muncul perasaan berempati terhadap orang Muslim, dan anda bisa tetap mengasihi mereka tak peduli seberapa besarnya pun kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh saudara-saudara mereka, maka berhasillah usaha kami untuk memberikan pencerahan kepada anda.
Untuk itu kami SANGAT BERHARAP supaya anda yang sudah mendapatkan pencerahan, untuk tetap menggunakan kalimat-kalimat yang santun. Kebenaran seharusnya tidak kita sampaikan melalui makian-makian atau kata-kata kotor. Kami tidak bermaksud membuat anda menjadi berdosa dengan artikel-artikel yang kami sajikan, sambil tetap mengingat kata-kata bijak Filsuf Perancis di bawah ini:
"Muslim adalah korban pertama Islam ... dan membebaskan mereka dari agamanya adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan" (Ernest Renan)
SALAM PENCERAHAN
Admin, heartofpapua.com
Saatnya Anak Mamteng Bersatu
Ini disampaikan Pagawak dalam sambutannya saat resepsi pelantikan di
halaman Sekolah Tinggi Teologi GIDI, Sentani, Kabupaten Jayapura,
Papua, Senin (25/3). “Kita kemarin berada di masing-masing kelompok
karena politik. Kini saatnya kita bersatu,” ujar Pagawak mengajak semua
pihak.
Menurut Pagawak, semua yang berbeda itu harus bersatu membangun
wilayah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya pada tahun 2008 ini. “Kami
ajak semua bergandengan tangan menuju ke Mamteng untuk membangun,”
katanya. Dalam rangka membangun bersama itu, Pagawak berharap kepada pihak
legislatif Kabupaten Mamteng mendukung kebijakannya tanpa melihat
perbedaan padangan politik. “DPR jangan lihat kebijakan kami dari sisi
politik tetapi dari pembangunan. Kepada SKPD, kami ajak ke Mamteng untuk
kerja tetapi bagi yang masih mau berkeliaran di kota silahkan terus
saja,” tegasnya. (Jubi/Mawel)
______________________
Sumber: Tabloit Jubi
Edisi: 25 Maret 2013
Sumber: Tabloit Jubi
Edisi: 25 Maret 2013
| Pemilihan Badan Pengurus FKGSW Dilakukan |
Pemilihan Badan Pengurus FKGSW Dilakukan
WAMENA
– Untuk mempermudah jangkauan dari kinerja organisasi persatuan Ikatan Walak (Ikwal) Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah, Forum
Komunikasi Generasi Suku Walak (FKGSW) yang masih bersifat non permanen
atau sementara menggelar pertemuan sekaligus pemilihan badan pengurus,
Kamis (28/2/2013) kemarin, di aula Betesda Wamena.
Pertemuan tersebut dipimpin Panitia penggagas sekaligus tim kerja FKGSW,
Weki Gombo dan Astri Gombo, dihadiri para peserta terdiri dari pemuda
suku Walak.
Kepada Harian Pagi Papua, Weki Gombo mengatakan, tujuan kegiatan diskusi sekaligus pemilihan badan kepengurusan FKGSW Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah yaitu, untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dalam satu honai suku Walak, berdasarkan keputusan dan pertemuan, yang dilakukan pada (18-23/2), yang memfokuskan pada pemangkasan kepengurusan kinerja Ikatan Walak (Ikwal).
“FKGSW tetap berada pada naungan Ikwal, jadi dalam program kerja tidak akan terjadi tumpang tindih pekerjaan,” jelas Weki.
Dikatakannya, FKGSW merupakan forum yang masih bersifat non permanen dan belum terorganisir, sehingga kinerjanya hanya mendukung dan mengontrol jalannya program kerja yang ada, sehingga program kerja dan kegiatan di lapangan tidak saling tumpang tindih. Selain itu menurutnya, FKGSW akan mendukung kinerja kepemimpinan Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, SH, M.Par dan Wakil Bupati, Jhon Banua, SE.
Kepada Harian Pagi Papua, Weki Gombo mengatakan, tujuan kegiatan diskusi sekaligus pemilihan badan kepengurusan FKGSW Kabupaten Jayawijaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah yaitu, untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dalam satu honai suku Walak, berdasarkan keputusan dan pertemuan, yang dilakukan pada (18-23/2), yang memfokuskan pada pemangkasan kepengurusan kinerja Ikatan Walak (Ikwal).
“FKGSW tetap berada pada naungan Ikwal, jadi dalam program kerja tidak akan terjadi tumpang tindih pekerjaan,” jelas Weki.
Dikatakannya, FKGSW merupakan forum yang masih bersifat non permanen dan belum terorganisir, sehingga kinerjanya hanya mendukung dan mengontrol jalannya program kerja yang ada, sehingga program kerja dan kegiatan di lapangan tidak saling tumpang tindih. Selain itu menurutnya, FKGSW akan mendukung kinerja kepemimpinan Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, S.Sos, SH, M.Par dan Wakil Bupati, Jhon Banua, SE.
“ FKGSW akan tetap mendukung program dan kinerja dari Bupati dan Wakil bupati kedepan,” tegas Weki.
Menurutnya, setelah pertemuan dan pemilihan badan pengurus FKGSW, maka hasilnya akan disampaikan kepada Ikwal untuk dijadikan bahan pembelajaran dan pertimbangan, guna mengembangkan sumber daya manusia (SDM) khususnya dari Suku Walak.
Ketika ditanya mengenai program prioritas dalam pengembangan SDM khususnya pemuda Suku Walak, Weki Mengatakan, pihaknya akan mencoba untuk mengembangkan program media dalam hal ini layanan internet kepada 5 wilayah kampung distrik Wollo.
Weki menambahkan, program pengembangan media di kampung sangat berguna, untuk pengembangan SDM Suku Walak.
“Dimana kita semua mempunyai hak untuk maju dan membangun Kabupaten Jayawijaya dan khususnya generasi penerus Suku Walak kedepan,” tegasnya.(naf/ecy/hpp)
POLISI MEMBAYAR ADAT ATAS PELECEHAN PEREMPUAN PAPUA
![]() |
| Bukti Foto Denda Adat/ Doc. Freddy |
Walau Kapolres Fak-fak Menyangkal dan Mengkambing Hitamkan Elsham Papua, Kini Terbukti Polisi Melecehkan Perempuan Papua Dengan Membayar Denda Adat
FAK-FAK, SuarakaKaumTakBersuara.com- Walau Kapolres berusaha
menutupi kebenaran dengan mencari kambing hitam terkait pelecehan
terhadap perempuan Papua di Fak-fak lalu, dengan mengatakan Elsham Papua
merekayasa kasus tersebut, namun Polisi diam-diam datang ke korban dan
membayar uang adat atas kasus pelecehan tersebut dan menghebohkan warga
setempat, 18 September 2013.
Ketika menghadiri pertemuan antara Komnas Perempuan bersama Pemda
Kabupaten Fakfak pada 12 September 2013, yang digelar di Ruang Rapat
Kantor Bupati Kabupaten Fakfak, Kapolres Fakfak menyatakan bahwa ELSHAM
Papua sengaja merekayasa laporan kasus pelecehan seksual yang dialami
oleh enam orang perempuan. Tambah Kapolres, dari hasil pemeriksaan yang
dilakukan Propam Polda
Papua bahwa peristiwa 14 Agustus itu merupakan Fakta terbalik.
“Pemeriksaan dan penggeledahan sudah dilakukan sesuai aturan, apakah
seceroboh itu seorang polri yang professional dan punya aturan, yang
lahir dari seorang mama bisa melakukan sedemikian, yang periksa adalah
dua polwan ada saksi disitu, bisa melakukan hal yang seburuk itu, saat
mengintograsi ditemukan bahwa ada bukti petunjuk bahwa ada yang
mengajari mama-mama itu, dan dokumen sudah disita dan akan dijadikan
alat bukti, sekarang ada di Polda dan Polda sedang menyusun tim untuk
mengungkap siapa pelaku sebenarnya. Jawaban Kapolres tersebut atas
pertanyaan Komnas Perempuan Sebelum Komnas menyampaikan hasil
Investigasinya.
Menurut
Freddy Warpopor, Sulit
memang kalau Polisi periksa Polisi. Begitu gampangnya mereka melecehkan
Perempuan-perempuan pribumi ini. Dalam foto ini adalah mama yang sedang
menerima denda adalah Perempuan yang pertama kali masuk ruangan dan
ditelanjangi
oleh dua oknum Polwan di Polres Fakfak. Foto ini membuktikan bahwa
Polisi sudah
mengaku salah secara adat. saat ini mama sudah siap kembalikan denda
adat
tersebut dan buat sumpah adat. supaya kwalat akan turun buat siapa yang
sudah
putar balik Fakta ini. Hal itu disampaikan Freddy sambil menunjuk bukti
berupa
foto. Tambah Freddy, jangan mengelak lagi kalau anak buah sudah
merendahkan martabat perempuan Fakfak, maka Pak tidak perlu mencari
Kambing
Hitam lagi. Gambar ini terbukti bahwa anda salah dan telah melecehkan
martabat
perempuan Pribumi Papua. Jangan pikir perempuan Fakfak akan diam saja.
Di
forum adat mengaku salah! Terus, setelah membuat opini baru ooooo nanti
lihat
saja. Emamas negri Fakfak itu diuji dalam tanur api dan bentuk menjadi
nilai
harta yang mahal. Hati-hati, panasnya itu akan membuat hidup-mu tidak
tenang. (Ten-G)
Pusat Aktivitas Pemkab Mamteng di Kobakma
Penegasan itu disampaikan Penjabat Bupati Mambramo Tengah, David
Pagawak, S.Sos ketika dikonfirmasikan Papua Pos, Minggu [28/2] malam
terkait adanya kritikan dari FKIPM mempertanyakan keberadaan kantor
Pemkab Mamteng.’’Jadi masyarakat tidak perlu bingung mau menemui saya
dan semua SKPD kabupaten Mamteng ada di Kobakma. Sebagai abdi Negara dan
pelayan, saya siap melayani masyarakat dengan setulus hati,’’ katanya.
Sedangkan menyangkut perpanjangan SK penjabat Bupati. Itu menurut
Bupati sudah sesuai aturan. SK terbit tanggal 19 Februari 2010. Hal ini
sesuai usulan dari Gubernur Papua. SK ini adalah tahap ke 2, setelah
tahap pertama berakhir tanggal 22 Desember 2009 lalu. Dimana sempat
terjadi kepavakuman kepemimpinan di Kabupaten Mamteng sehingga
tugas-tugas pemerintahan tidak berjalan lancar. Namun setelah SK tahap
ke 2 turun, maka semua tugas-tugas Negara akan kembali berjalan baik.
Seperti
halnya pengumuman CPNSD kabupaten Mamteng belum diumumkan. Ini akibat
terjadi kevakuman, tetapi setelah SK penjabat Bupati keluar atas nama
dirinya, maka CPNSD akan segera diumumkan.
Ia juga menyatakan bahwa dirinya tidak menutup diri untuk diaudit,
jika itu dilakukan Bawasda dan BPKP.’’Saya mendukung sepenuhnya
dilakukan audit, itu saya pikir wajar-wajar saja sehingga rakyat tahu
apa yang kita sudah kerjakan selama ini di kabupaten Mambramo Tengah,’’
katanya.
Namun demikian Penjabat Bupati meminta dukungan dari semua stake
holder yang ada di kabupaten Mambramo Tengah untuk memberi dukungan
penuh dalam membangun masyarakat Mamteng menuju masyarakat yang lebih
sejahtera. Ia menyadari bahwa membangun Mamteng tidak seperti
membalikkan telapak tangan. Apalagi Mamteng baru satu tahun. Untuk
membangun Mamteng harus dibuat perencanaan yang baik karena Kobakma 90
persen adalah hutan lindung.
Membangun Mamteng lanjutnya tidak bisa dilakukan dalam sekejap saja
atau bim salah bim langsung jadi semua. Membangun sarana dan prasarana
Mamteng harus dilakukan secara bertahap. ‘’Siapapun dia dengan tofograpi
Mamteng tidak akan mampu berbuat seperti apa yang saya buat seperti
sekarang ini, meskipun memang belum begitu nampak, tetapi hasil
pembangunan kini sudah mulai dirasakan masyarakat, seperti akses
pembangunan jalan dan pembangunan sarana ibadah. Jadi kalau ada yang
mengkritik, itu hanya ulah segelintir orang yang tidak senang melihat
perkembangan pembangunan di Mamteng,’’ katanya.
‘’Kalau saya bukan alergi dikritik, saya senang dikritik asalkan
kritikan itu sifatnya membangun, bukan menjelek-jelekkan yang tujuannya
untuk kepentingan sesaat. Sebagai kaum intelektual, mari kita bersatu
membangun Mamteng,’’ pintanya. [bela/fredy]
___________________________
Sumber: Papuapos.com
Ditulis oleh Bela/Fredy/Papos
Senin, 01 Maret 2010 03:06
___________________________
Sumber: Papuapos.com
Ditulis oleh Bela/Fredy/Papos
Senin, 01 Maret 2010 03:06
DPRD Palang Kantor Bupati Mamteng
JAYAPURA [PAPOS] – Persoalan pemerintahan di kabupaten pemekaran Mamberamo Tengah nampaknya tidak pernah berhenti. Meskipun penjabat Bupati Mamteng sudaj diganti, persoalan seakan tak berujung. Seperti yang terjadi Rabu [5/10] kemarin, kantor bupati dipalang oleh DPRD Mamberamo Tengah [Mamteng]. Mereka menuntut, penjabat bupati tidak menambah kelembagaan di pemerintahan tetapi lebih focus pada Pemilukada.
Ketua DPRD Mamberamo Tengah, Itaman Tago kepada Papua Pos lewat telepon selularnya, Rabu [5/10] mengatakan, rencana penjabat Bupati Mamberamo Tengah, Drs. Ayub Kayame menambah kelembagaan tidak bisa diterima oleh DPRD, kendati sudah dikonsultasikan dengan pihak pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Pasalnya, DPRD sebagai lembaga legislative tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau tanpa sepengetahuan pihak DPRD.
“Kelembagaan di Pemerintah Mamberamo Tengah baru 2 bulan lewat diganti oleh penjabat Bupati sebelumnya. Secara kemanusiaan tidak baik dan kurang menyenangkan hati jika harus mengganti dan menambahg struktur kelembagaan lagi,” kata Itaman.
Menurutnya, perombakan maupun penambahan kelembagaan tidak penting. Karena itu, jika dipaksakan oleh penjabat bupati maka pihak DPRD perlu diberi kepastian di mana penjabat bupati pun, melaksanakan tugas di Kobakma Ibu Kota Mamberamo Tengah hanya 3 hari saja. Selanjutnya penjabat berada di Jayapura sementara staf berada di Kobakma.
Ia menilai, keberadaan penjabat di Jayapura dan membiarkan staf di Kobakma, sama halnya dengan anak ayam yang kehilangan induknya. Karena itu, masyarakat demontrasi agar dikembalikan ke provinsi saja, karena dianggap membuka lahan konflik di Kobakma. “Jika masih mau lanjut menjalankan tugas sebagai penjabat bupati, kami mohon hentikan penambahan kelembagaan,” pintanya tegas.
Pemalangan yang dilakukan lembaga DPRD itu, kata Itaman kemudian, akan terus berlanjut hingga 2 minggu jika tidak direspon baik oleh penjabat bupati. Ia menambahkan, pemalangan yang dilakukan pihak DPRD bukan tidak tanpa alasan yang kuat. Soalnya, penambahan kelembagaan mestinya harus disertai dengan dukungan anggaran.
Sementara sebagai kabupaten yang baru dimekarkan, seharusnya penjabat bupati mempertimbangkan perimbangan belanja public maupun belanja aparatur. Untuk sebuah wilayah baru, mestinya belanja public lebih besar dari pada biaya aparatur, bukan lebih berat anggaran daerah dihabiskan untuk belanja aparatur.
”Kami merasa bahwa ini belum penting dilakukan. Sebaiknya memperhatikan dan memprioritaskan infrastruktur dan bidang-bidang lain karena tahun anggaran ini sudah hampir selesai,” katanya.
Lanjutnya, hal-hal yang dikemukakan tersebut sudah disampaikan secara tertulis tetapi tidak ditanggapi sehingga langkah pemalangan diambil agar menjadi perhatian tidak hanya penjabat bupati tetapi juga Pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah pusat.
Hal lain yang juga mendesak, kata Itaman adalah Pemilukada. Kata dia, masyarakat Mamberamo Tengah telah membuat aspirasi dan sudah diantar ke KPU Provinsi Papua tetapi belum juga diakomodir. Permintaan masyarakat itu adalah KPU segera melantik PAW KPUD Mamberamo Tengah dalam waktu dekat, sehingga bisa menjalankan tahapan Pemilukada di wilayah tersebut.
Akomodir Semua Pejabat
Ditempat terpisah, Penjabat Bupati Mamberamo Tengah, Drs. Ayub Kayame, ketika dihubungi Papua Pos untuk meminta tanggapan terkait pemalangan kantor bupati oleh DPRD, mengemukakan, karena ada dualisme kepemimpinan di wilayah itu, ia harus mengambil keputusan yang bisa merangkul semua pihak.
Dengan demikian, kata dia, sesuai dengan arahan dan koordinasi dengan gubernur maupun Depdagri, ia ingin mempersatukan semua kepala SKPD yang ada. Caranya, semua SKPD baik SKPD pada masa kepemimpinan penjabat bupati yang pertama maupun pada masa kepemimpinan penjabat bupati yang kedua, tetap dipakai dengan melakukan perombakan cabinet dan menambah kelembagaan.
“Saya harus merangkul semua, dan mengakomodir semua sehingga tidak ada pejabat yang tidak terpakai, jadi bukan bermaksud mengorbankan rakyat atau mengorbankan siapa-siapa,” terang Kayame.
Ia juga mengatakan, karena pihaknya sudah meminta agar semua staf atau pegawai harus berkantor di Kobakma, maka ia juga meminta kepada pimpinan DPRD agar bicara dengan semua anggota DPRD untuk masuk kantor sehingga bisa duduk bersama untuk berbicara dengan pihak eksekutif demi kemajuan Mamberamo Tengah. ‘’Saya berharap, semua bisa duduk dan berbicara di Kobakma, tidak bicara di luar. Dengan duduk bersama semua komponen, bisa mengambil solusi terbaik untuk Mamberamo Tengah,’’ katanya. [ida]
_________________________________
Sumber: Papuapos
