Tampilkan postingan dengan label Suara Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Presidium sidang tetap pada kegiatan Musyawara Besar ke-IV Pelajar
Mahasiswa Mamberamo Tengah Malang-Kediri, tampak pada foto adalah dari
kiri Sam Koba, tengah Yunus Kenelak dan Kanan Onel Tabuni - Foto
NaworLano.dok MTNews - Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahsiswa
Mamberamo Tengah Papua (IKB-PMMTP) Koordinator Kota Malang dan Kediri...
Dibawa ini adalah foto-foto kegiatan saat foto bersama sehabis kegiatan
MUBES IKB-PMMTP Koordinator Kota Malang-Kediri ke IV. bertempat di Ning
ET-Hotel STIE Taman Agung, Dieng, Kota Malang, (9/6). Lihat Juga
Foto-foto lainnya : Saat Merima Para Undangan, Tamu dan Peserta Saat
Acara Inti Mubes IKB PMMTP Ke IV...
Dibawa
ini adalah foto-foto kegiatan saat serba-serbi alias selesai kegiatan
MUBES IKB-PMMTP Koordinator Kota Malang-Kediri ke IV. bertempat di Ning
ET-Hotel STIE Taman Agung, Dieng, Kota Malang, (9/6). Lihat Juga
Foto-foto lainnya : Merima para Undangan, Tamu dan Peserta Saat Acara
Inti Mubes IKB PMMTP Ke IV Saat Menyampaikan...
Mencari...... Mengejar.... Dan menuntut ilmu dari ujung timur ke ujung barat Menyebrangi lautan dan samudra Melintasi daratan dan pegunugan Meninggalkan negeri tercinta dan sanak saudara.... Hanya demi mengejar impian Impian bukan kenyataan Kenyataan bukan lagi harapan Berjuang demi mencapai impian Tidak semudah apa yang di bayangkan demi meraih impian itu butuh ,tenaga,pikiran,waktu dan moril langkah demi-langkah tahap-demi tahap Rasa pahit.... Rasa sedih.... Rasa duka..... Tangisan dan air mata selalu menghiasi jiwa ku Namun ku sadari bahwa hidup adalah perjuangan Tidak semudah yang ku bayangkan Rasa pahit,sedih,duka,tangisan air mata bukanlah menjadi penghalang bagi kami untuk melangkah Namun… Kami tetap maju langkah demi langkah, Tahap demi tahap hingga impian kami terwujud mejadi kenyataan Karena hidup ku di negeri orang jauh dari keluarga dan sanak saudara Tiada seorang pun yang menemani,dan menghibur kami Doalah yang menjadi senjata Dan musiklah yang menjadi penghibur dalam perjuangan kami . SALAM juang kepada kawan-kawan seperjuangan yang telah berjuang dan telah gugur, yang sedang berjuan dan akan berjuang (Next Generation) untuk tetap teguh setia dalam setiap langkah perjuangan bersama " KEBENARAN SEJARAH SANG BINTANG KEJORA" untuk tetap berteriak, aktif menulis menari-nari diatas pen.
::::::: Saalam Pembasan dan Salam Revolusi::::::::
B.M.Kilungga.Tabuni
Saatnya Anak Mamteng Bersatu
Ini disampaikan Pagawak dalam sambutannya saat resepsi pelantikan di
halaman Sekolah Tinggi Teologi GIDI, Sentani, Kabupaten Jayapura,
Papua, Senin (25/3). “Kita kemarin berada di masing-masing kelompok
karena politik. Kini saatnya kita bersatu,” ujar Pagawak mengajak semua
pihak.
Menurut Pagawak, semua yang berbeda itu harus bersatu membangun
wilayah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya pada tahun 2008 ini. “Kami
ajak semua bergandengan tangan menuju ke Mamteng untuk membangun,”
katanya. Dalam rangka membangun bersama itu, Pagawak berharap kepada pihak
legislatif Kabupaten Mamteng mendukung kebijakannya tanpa melihat
perbedaan padangan politik. “DPR jangan lihat kebijakan kami dari sisi
politik tetapi dari pembangunan. Kepada SKPD, kami ajak ke Mamteng untuk
kerja tetapi bagi yang masih mau berkeliaran di kota silahkan terus
saja,” tegasnya. (Jubi/Mawel)
______________________
Sumber: Tabloit Jubi
Edisi: 25 Maret 2013
Sumber: Tabloit Jubi
Edisi: 25 Maret 2013
Demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua Se-Jawa & Bali Sumpah Pemuda (Papua Students Nasional Commando Regiment/Revolution)di Surabaya Ricuh
Demonstrasi Aliansi Mahasiswa Papua Se-Jawa & Bali Sumpah Pemuda (Papua Students Nasional Commando Regiment/Revolution)di Surabaya Ricuh
Aliansi Mahasiswa Papua Se-Jawa & Bali Sumpah Pemuda (Papua Students Nasional Commando Regiment/Revolution)di Surabaya Ricuh
Metrotvnews.com, Surabaya: Unjuk rasa sejumlah
mahasiswa di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Jawa Timur, ricuh, Senin
(28/10). Mahasiswa baku pukul dengan petugas keamanan.
Keributan pecah ketika petugas keamanan menghalangi niat mahasiswa masuk ke Gedung Dewan. Mahasiswa yang emosi membalas dengan pukulan. Baku hantam pun tak bisa dihindari.
Tapi keributan tak lama. Saling jual beli pukulan antara mahasiswa dan petugas keamanan berhenti setelah salah seorang anggota Dewan bersedia menemui demonstran.
Demonstran menuntut, pemerintah segera mengisi pos wakil wali kota Surabaya, yang sudah lama kosong. Mahasiswa mengancam kembali berdemo jika aspirasi mereka tidak digubris.
Keributan pecah ketika petugas keamanan menghalangi niat mahasiswa masuk ke Gedung Dewan. Mahasiswa yang emosi membalas dengan pukulan. Baku hantam pun tak bisa dihindari.
Tapi keributan tak lama. Saling jual beli pukulan antara mahasiswa dan petugas keamanan berhenti setelah salah seorang anggota Dewan bersedia menemui demonstran.
Demonstran menuntut, pemerintah segera mengisi pos wakil wali kota Surabaya, yang sudah lama kosong. Mahasiswa mengancam kembali berdemo jika aspirasi mereka tidak digubris.
Editor: Ichoel
A'aLAPAME: Para Pemimimpin Pemerintahan di Propinsi Papua dan Papua Barat, Bicaralah, jangan hanya diam
| Logo Corp@2013 A'aLAPAME |
Lanny Jaya Post
| Forum Ikatan Keluarga Besar Pelajar Dan Mahasiswa Kabupaten Lanny
Jaya, Tolikara, Puncak Jaya, Mamberamo Tengah, Jahukimo, Dan Yalimo yang tergabung dalam "A'aLAPAME Group"
di kota study Se-Malang Raya Jawa Timur meminta seluruh para Pemimimpin
di Pemerintahan Propinsi Papua dan Papua Barat beranilah bersuara dan
tidak tinggal diam saat masyarakatnya diserang lawan-lawan kolonial
Indonesia. Sejauh ini, Para pelajar dan mahasiswa papua di pulau jawa
(Malang) sudah bertindak tegas terhadap anggota tiap kabupaten untuk
meninggkatkan diskusi rutin dan forum-forum resmi demi perjuangan
kemerdekaan Negara Republik Papua Barat (Republic Of West Papua)
, sehingga serangan ideologi tentang kemerdekaan rakyat papua barat
dari sejumlah pihak, menjadi tidak berdasar dan mesti ditanggapi.
"Kalau kita tahu tidak adil dan serangan kepada orang papua kita
melampaui batas-batas dan kepatutannya, maka para pemimpin papua yang
ada di DPRI, tingkat propinsi, tinkat kabupaten dampai tingkat desa
harus bicara. Jangan hanya diam, jangan tiarap, apa saudara takut?
Mungkin yang takut dan tiarap itu pemimpin papua yang membunuh rakytnya
sendiri, dan tidak mau merdeka Saudara semua mengapa harus takut?
Mengapa digebuki, dihabisi rakyatnya oleh NKRI diam saja," Kata M.Lood
Wenda Katua A'aLAPAME Group saat forum mahasiswa papua pegunungan persiapan menyambut HUT Republic of West Papua, (28/11).
Seruan Ketua A'aLAPAME Group
M.Lood Wenda itu disambut teriakan-teriakan lantang Freedom For West
Papua. Mereka setuju dengan seruan tersebut. Total ada sekitar 102 orang
hadir pada pertemuan/forum itu.
"Kalau para pemimpin papua dan papuaa barat yang bergerak lantang di
sini tidak setuju dengan apa yang diserangkan kepada kita, sekali lagi,
bicaralah. Bicaralah para anggota DPR RI, bicaralah para pemimpin dan
fungsionaris partai pusat dan di daerah. Kalau oarng papua diserang dan
dihabisi, belalah," kata M.L.Wenda sebagai Ketua A'aLAPAME Group Malang,.
Seruan A'aLAPAME Group :
KAMI
INGIN MERDEKA, KAMI MAU MERDEKA, KAMI INGIN BEBAS DARI NKRI, KAMI INGIN
MEMNENTUKAN NASIB SENDIRI, KAMI MENUNTUT KEBENARAN DAN KEADILAN
KAMI
TIDAK MAU PEMBANGUNAN DI PAPUA, KAMI TIDAK SETUJU UP4B DI PAPUA, KAMI
TIDAK BUTUH KESEJAHTRAAN . KAMI TIDAK BUTUH SEGALA MACAM PROGRAM DI
PAPUA , KAMI TADAK MAU NKRI CAMPUR TANGAN SEGALA BENTUK APAPUN DI
PAPUA.
KAMI TIDAK BUTUH KESEJAHTRAAN ATAU SEGALA MACAM, TAPI KAMI HANYA INGIN MERDEKA.
Surat buat Wakil Rakyat
dinyayikan oleh Iwan Fals, syair oleh Ma'mun
dari Salam Reformasi -- 12/99 -- PT Musika Studio
dinyayikan oleh Iwan Fals, syair oleh Ma'mun
dari Salam Reformasi -- 12/99 -- PT Musika Studio
Untukmu yang duduk
sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana di gedung DPR
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana di gedung DPR
Wakil rakyat kumpulan orang hebat
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili
Bukan kumpulan teman-teman dekat
Apalagi sanak famili
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar, lalu sampaikan
Suara kami tolong dengar, lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Di kantong safarimu kami titipkan
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Masa depan kami dan negeri ini
Dari Sabang sampai Merauke
Saudara dipilih bukan dilotre
Meski kami tak kenal siapa saudara
Meski kami tak kenal siapa saudara
Kami tak sudi memilih para juara
Juara diam, juara he'eh juara ha... ha...ha!
Juara diam, juara he'eh juara ha... ha...ha!
Untukmu yang duduk
sambil diskusi
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana di gedung DPR
Untukmu yang biasa bersafari
Di sana di gedung DPR
Di hati dan lidahmu kami berharap
Suara kami tolong dengar, lalu sampaikan
Suara kami tolong dengar, lalu sampaikan
Jangan ragu jangan takut karang menghadang
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Bicaralah yang lantang jangan hanya diam
Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu setuju
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil rakyat bukan paduan suara
Hanya tahu nyanyian lagu setuju
[diulangi]
Aliansi Mahasiswa Papua Se-Jawa & Bali Memperingati HUT West Papua 1 Desember 2013 Di Surabaya
| Sejumlah mahasiswa Papua melakukan aksi peringatan Papua Merdeka (Foto: Aktual.co/Tino Oktaviano) |
Jakarta, Aktual.co — Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi
Mahasiswa Papua Komite Kota Surabaya (AMP) melakukan aksi unjuk rasa di
depan Gedung Grahadi, Surabaya. Mereka meminta agar Papua diakui sebagai
negara merdeka.
"Kami protes terhadap pemerintah
NKRI, karena selalu saja ada aksi kekerasan yang dilakukan anggota TNI
dan Polri terhadap masyarakat di Papua," ujar Theodorus Tekeke, juru
bicara AMP, Senin (16/9).
Belasan mahasiswa itu juga minta agar media internasional bebas meliput dan mengekspos segala kegiatan di Papua. Aksi tersebut berlangsung tertib.
Laporan: Bagus Novianto
Mereka menuntut kemerdekaan
Papua Barat dan menghentikan aktivitas eksploitasi perusahaan Multi
National Coorporation (MNC) dan ditariknya militer Indonesia (TNI/Polri)
di tanah Papua.
Pengunjuk rasa juga
mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono segera
menetapkan kemerdekaan bangsa Papua Barat.
Belasan mahasiswa itu juga minta agar media internasional bebas meliput dan mengekspos segala kegiatan di Papua. Aksi tersebut berlangsung tertib.
Sebelumnya,
pada 15 Agustus, AMP Komite Kota Surabaya menggelar Parade Seni Budaya
Papua. Kala itu, mereka menggelar demo damai dalam rangka memperingati
diselenggarakannya New York Agreement pada 15 Agustus 1962, dan
mendukung pembukaan kantor Free West Papua Campaign di Belanda, di
tanggal yang sama.
Epung Saepudin
Demo di Surabaya, Mahasiswa Tuntut Papua Merdeka
Aksi mahasiswa Papua Se-Jawa & Balidi Surabaya.
SURABAYA, KOMPAS.com — Puluhan mahasiswa Papua
menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung negara Grahadi Surabaya, Senin
(2/12/2013). Mereka mendesak pemerintah memberikan hak kemerdekaan
untuk rakyat Papua.
Kelompok mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu menggelar aksi dengan mengenakan pakaian adat Papua. Mereka berjalan kaki dari Jalan Raya Darmo menuju Jalan Gubernur Suryo.
Selain membawa spanduk berisi tuntutan Papua merdeka, mereka juga membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan.
"Sudah lama kami dieksploitasi oleh Pemerintah Indonesia. Sudah saatnya rakyat Papua untuk menentukan masa depannya," kata salah satu peserta aksi, Domingus Wangea.
Jika pemerintah tidak menghendaki kemerdekaan warga Papua, para mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan tinggi di Jawa dan Bali itu menuntut pemerintah menarik dan menghentikan pengiriman pasukan TNI dan Polri dari dan ke Papua, dan menghentikan segala macam produk hukum dan politik dari Papua.
"Kami minta pemerintah memberlakukan otonomi khusus untuk wilayah Papua, pemekaran, dan pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B)," tambahnya.
Aksi yang sempat memacetkan arus lalu lintas itu dikawal ketat oleh puluhan jajaran polisi dari Polrestabes Surabaya dengan bersenjata lengkap.
Kelompok mahasiswa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) itu menggelar aksi dengan mengenakan pakaian adat Papua. Mereka berjalan kaki dari Jalan Raya Darmo menuju Jalan Gubernur Suryo.
Selain membawa spanduk berisi tuntutan Papua merdeka, mereka juga membagi-bagikan selebaran kepada para pengguna jalan.
"Sudah lama kami dieksploitasi oleh Pemerintah Indonesia. Sudah saatnya rakyat Papua untuk menentukan masa depannya," kata salah satu peserta aksi, Domingus Wangea.
Jika pemerintah tidak menghendaki kemerdekaan warga Papua, para mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan tinggi di Jawa dan Bali itu menuntut pemerintah menarik dan menghentikan pengiriman pasukan TNI dan Polri dari dan ke Papua, dan menghentikan segala macam produk hukum dan politik dari Papua.
"Kami minta pemerintah memberlakukan otonomi khusus untuk wilayah Papua, pemekaran, dan pembentukan Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B)," tambahnya.
Aksi yang sempat memacetkan arus lalu lintas itu dikawal ketat oleh puluhan jajaran polisi dari Polrestabes Surabaya dengan bersenjata lengkap.
Editor : Farid Assifa
Mahasiswa Minta Calon Bupati Mamteng Saling Mendukung
Malang (13/1)—Ikatan Pelajar Pelajar Mahasiswa Mamberamo Tengah Papua (IKB-PMMTP) mendukung siapapun yang akan
lolos verifikasi calon kepala daerah yang akan diumumkan Komisi
Pemilihan Umum (KPU). “Sebab kami harap, siapapun yang akan lolos atau
tidak lolos verivfkasi, harus saling mendukung melaksanakan proses
pemilukada,” kata Ketua IKB-PMMTP MALANG-KEDIRI, Bael B.Wandikbo. ke tabloidjubi.com, di
Abepura, Kota Jayapura, Papua,
Menurut Wandikbo, KPU akan mengumumkan enam kandidat yang mendaftar ke KPU. “Kami harap semua pihak dan para kandidat harus bekerjasama mensukseskan proses pilkada yang akan datang. Kerja sama dari kandidat yang lolos maupun tidak sangat kami harapkan,” katanya.
Selain itu, kata Wandikbo, mahasiswa tak hanya berharap kerja sama para kandidat, tapi mahasiswa pun akan kerja sama mengawal proses pemilihan kepala daerah. “Kita akan mendukung dan kawal pilkada berjalan demokratis. Karena itu, kami mahasiswa siap jadi tim pemantau,” kata pria asli Mamteng ini. (Jubi/Mawel)
Menurut Wandikbo, KPU akan mengumumkan enam kandidat yang mendaftar ke KPU. “Kami harap semua pihak dan para kandidat harus bekerjasama mensukseskan proses pilkada yang akan datang. Kerja sama dari kandidat yang lolos maupun tidak sangat kami harapkan,” katanya.
Selain itu, kata Wandikbo, mahasiswa tak hanya berharap kerja sama para kandidat, tapi mahasiswa pun akan kerja sama mengawal proses pemilihan kepala daerah. “Kita akan mendukung dan kawal pilkada berjalan demokratis. Karena itu, kami mahasiswa siap jadi tim pemantau,” kata pria asli Mamteng ini. (Jubi/Mawel)
Seruan Pelajar Mahasiswa/i : PEMDA KAB.MAMTENG Kesejahteraan Tahun Angaran 2012 Pelajar Mahasiswa/i Se-Jawa Dan Bali
Seruan Pelajar Mahasiswa/i : PEMDA KAB.MAMTENG Kesejahteraan Tahun Angaran 2012 Pelajar Mahasiswa/i Se-Jawa Dan Bali
IKB-PMMTP
News – Forum Pelajar Dan Mahasiswa Kabupaten Mamberamo Tengah,
Sekertaris Dewan Pengurus Pelajar Mahasiswa Mamberamo Tengah Se-Jawa Dan
Bali, B.Baelbengsath Wandikbo Menilai Pemerintah Kabupaten Mamberamo
Tengah Papua menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2012 tidak sesuai dengan
Aturan seperti Tahun-Tehun kemarin.
Hal ini dikemukakan Bael B Wandikbo saat mendatangi Redaksi IKB-PMMTP
News, 28/09/2012 kemarin. Dijelaskan, setelah mendapatkan kepastian
sidang anggaran periode 2012-1017 pelajar dan Mahasiswa sudah cukup
memberikan dukungan penuh, di mana semua yang dilakukan demi memajukan
pembangunan SDM di Kabupaten Mamberamo Tengah Papua bisa sesuai dengan
jadwal dan Sidang yang sudah ditetapkan. “Tapi sampai sekarang kinerja
Dinas Pendidikan tahun Anggaran 2011/2012 masih kurang jelas,” terang
Bael B Wandikbo. Ketidakjelasan ini, katanya, disebabkan karena
orang-orang yang telah dipercayakan Pemda Mamteng untuk menangani dana
di bidang pendidikan tidak serius untuk menjalankan tugas dan tanggung
jawab seakan-akan PEMKAB MAMBERAMO TENGAH menganggap hal sepeleh.
Sedangkan Kebutuhan kesejatrahan Pelajar dan Mahasiswa Sejawa Dan Bali
banyak yang belum terpenuhi, dan mahasiswapun Sangat dibutuhkan dalam
biaya perkuliahan dan banyak keluhan-keluhan mahasiswa asal kabupaten
tersebut banyak yang belum belum terealisasi.
Dalam Forum Tersebut, Mahasiswa mengemukakan bahwa kinerja dan realisasi dana pendidikan tahun 2011 yang dipercayakan PEMDA MAMTENG kenerjanya dan realisasinya sangat jelas dan memuaskan ketimbang tahun 2012 ini sampai brakhirnya pembagian dana dan sangat kurang dari Tahun kemarin, seharusnya Mahasiswa/i layak mendapatkan dana Kesejahteraan tidak memenuhi syarat dan belum dapat demikian dengan dana pemondokan.sehingga kami dari IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR DAN MAHASISWA MAMBERAMO TENGAH PAPUA mengambil sikap dalam forum tersebut bahwa :
1.Pemerintah Kab.Mamberamo Tengah Segera Pertimbangkan Untuk Hak-Hak Mahasiswa
2.Mahasiswa Menegaskan PEMDA MAMTENG harus turun langsung ke setiap kota study
3.Mahasiswa menegaskan sebelum memasuki bulan mei 2013_seterusnya PEMDA MAMTENG harus secepatnya mengambil tindakan dan memfungsikan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan dalam sidang APBD Tahun Ke depan.
4.Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah harus berjiwa profesional karena Mahasiswa Se-jawa dan Bali adalah kader dan kaderisasi ke depan kabupaten mamberamo tengah, maka pemerintah harus berfikir positif demi SDM mamberamo Tengah Kedepan.
5.Kalau Dana Pendidikan APBD Tahun Ke depan 2013-seterusnya tidak terealisasi dengan nyata maka Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa Dan Bali akan menindaklajuti menuntut hak-hak mahasiswa dan menggerakan langkah- langkah lain demi memperjuangkan hak-hak mahasiswa, dan mahasiswa berharap pemda mamberamo tengah jangan kaget dan tidak boleh mempersalahkan mahasiswa jika ada kerusuhan atau ada gerakan-gerakan yang tidak menyenangkan hati pemerintah daerah kabupaten mamberamo tenhag papua, karena mahasiswa akan bergerak atas dan bertindak berdasarkan ” Visi dan Misi” Kabupaten Mamberamo Tengagh.
Dalam Forum Tersebut, Mahasiswa mengemukakan bahwa kinerja dan realisasi dana pendidikan tahun 2011 yang dipercayakan PEMDA MAMTENG kenerjanya dan realisasinya sangat jelas dan memuaskan ketimbang tahun 2012 ini sampai brakhirnya pembagian dana dan sangat kurang dari Tahun kemarin, seharusnya Mahasiswa/i layak mendapatkan dana Kesejahteraan tidak memenuhi syarat dan belum dapat demikian dengan dana pemondokan.sehingga kami dari IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR DAN MAHASISWA MAMBERAMO TENGAH PAPUA mengambil sikap dalam forum tersebut bahwa :
1.Pemerintah Kab.Mamberamo Tengah Segera Pertimbangkan Untuk Hak-Hak Mahasiswa
2.Mahasiswa Menegaskan PEMDA MAMTENG harus turun langsung ke setiap kota study
3.Mahasiswa menegaskan sebelum memasuki bulan mei 2013_seterusnya PEMDA MAMTENG harus secepatnya mengambil tindakan dan memfungsikan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan dalam sidang APBD Tahun Ke depan.
4.Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah harus berjiwa profesional karena Mahasiswa Se-jawa dan Bali adalah kader dan kaderisasi ke depan kabupaten mamberamo tengah, maka pemerintah harus berfikir positif demi SDM mamberamo Tengah Kedepan.
5.Kalau Dana Pendidikan APBD Tahun Ke depan 2013-seterusnya tidak terealisasi dengan nyata maka Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa Dan Bali akan menindaklajuti menuntut hak-hak mahasiswa dan menggerakan langkah- langkah lain demi memperjuangkan hak-hak mahasiswa, dan mahasiswa berharap pemda mamberamo tengah jangan kaget dan tidak boleh mempersalahkan mahasiswa jika ada kerusuhan atau ada gerakan-gerakan yang tidak menyenangkan hati pemerintah daerah kabupaten mamberamo tenhag papua, karena mahasiswa akan bergerak atas dan bertindak berdasarkan ” Visi dan Misi” Kabupaten Mamberamo Tengagh.
Mahasiswa Illuga Minta Aparat Tindak Lanjuti Penggelapan Dana Studi Akhir
![]() |
| Ilustrasi Gambar |
JAYAPURA - Himpunan Mahasiswa Pelajar Distrik Illuga (HMPDI) -
Kabupaten Mamberamo meminta, kepada pihak aparat keamanan untuk segera
menangkap tiga orang pengurus HMPDI masing - masing berinisial FD, MG
dan MM yang diduga telah menggelapkan dana bantuan studi akhir kepada
mahasiswa asal Distrik Illuga - Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng)
sebesar Rp 220 juta dari total keseluruhan yang digelontorkan Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Mamberamo Tengah (Mamteng) sebesar Rp 420 juta. Hal
itu ditegaskan Ketua HMPDI A. Sonny Mabel.
“Kami minta aparat berwenang menindaklanjuti dugaan penggelapan yang dilakukan mereka,’’tegas A. Sonny Mabel didampingi anggota HMPDI Melly Kombo dan sejumlah mahasiswa asal Distrik Illuga, Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng) ketika menggelar jumpa pers, di Asrama Mahasiswa Kabupaten Mamberamo Tengah, Kompleks Perumahan Organda Padang Bulan, Kelurahan Hedam, Distrik Heram, Selasa (24/9) kemarin siang sekira pukul 14.00 WIT.
Sebagai senior dirinya sangat menyesal dengan tidakan dan kinerja pengurus himpunan mahasiswa distrik Illuga ini, dan sebagai kader di distrik Illuga, dia juga meresa dirugikan oleh badan pengurus yang menggelapkan dana tersebut.
“Dana yang disalurkan kepada distrik iluga sebesar empat ratus dua puluh juta, dikususkan untuk mahasiswa distrik illuga kepada mereka yang aktif dan berhak menerima bantuan itu. Namun yang kami harapkan tidak seperti itu dan dari dana itu, tiga ratus juta sudah dipakai oleh dua tiga orang berinisial FD,MG,MM bahkan mengatasnamakan mahasiwa,” katanya.
Selain itu, Sonny demikian sapaan akrabnya juga meminta maaf kepada mahasiswa yang berhak menerima namun tidak memperolehnya dan juga mendesak kepada aparat keamanan dalam hal ini kepolisian agar segera menangkap dan mengadili tiga orang yang menggelapkan dana bantuan studi bagi mahasiswa tersebut.
“Dimana, dua orang sudah kami dapat tinggal satu itu yang kami masih cari, dan dua orang ini akan kami serahkan ke pihak keamanan untuk diperiksa, sedangkan satunya kami akan membantu pihak keamanan untuk mencari yang bersangkutan,” katanya.
Dia juga berpesan kepada mahasiswa yang memiliki hak untuk memperoleh dana tersebut namun tidak dapat agar, mereka tidak main hakim sendiri melainkan mereka harus bersama – sama aparat kemanan untuk membawa anggota badan pengurus yang bersangkutan untuk di adili sesuai hukum yang berlaku di Negara ini.
“Jangan dibiarkan karena jika dibiarkan, nantinya pengurus yang akan datang bisa - bisa kebiasaan melakukan hal serupa. Dari dana sebesar empat ratus dua puluh juta itu, mereka bagi kepada mahasiswa hanya seratus dua puluh juta, sedangkan tiga ratus itu digelapkan dan dari seratus dua puluh juga itu, mereka potong lagi tiga juta untuk administrasi,” katanya.
Sementara itu, salah satu perwakilan dari mahasiswa asal Distrik Illuga - Kabupaten Mamberamo Tengah bernama Melly Kombo mengatakan, bahwa permainan tersebut sudah yang ke tiga kalinya dan setiap database yang dibuat oleh pengurus mahasiswa selalu saja tidak sama dengan apa yang dibuat oleh pemerintah daerah setempat.
“Anak - anak yang tidak dapat itu mereka kecewa karena data bes milik pengurus tidak sesuai dengan milik pemda Mamteng. Kami juga meminta maaf kepada pemda distrik illuga yang telah memperjuangkan hak anak - anak distrik Illuga, namun karena pengurus sudah salah menggunakan itu oleh karena itu kami mohon maaf,” katanya.
Selain itu, Melly demikian sapaan akrabnya juga berharap agar dalam waktu dekat segera diganti pengurus lama dengan pengurus baru. “Supaya mereka bisa bekerja dengan jujur dan memperjuangkan teman - teman kita yang akan menempuh studi akhir,” pungkasnya. (Mir/Jir/l03)
Sumber : Bintang Papua
PMMT Harap Pemda Mamteng Tingkatkan Beasiswa
JAYAPURA-
Himpunan Pelajar Dan Mahasiswa Mamberamo Tengah (HPMMT) berharap agar
Pemda Mamberamo Tengah (Mamteng) dapat meningkatkan beasiswa kepada
mahasiswa Mamteng yang menempuh pendidikan di Kota Studi Jayapura.
Ketua HPMMT Pither Togodli, mengatakan sebenarnya sudah dua kali
mahasiswa mendapat beasiswa dari Pemda Mamteng namun yang mendapat
beasiswa hanya mahasiswa yang sudah dalam studi tahap akhir. Pertama
mahasiswa mendapat 3 Juta Rupiah dan yang kedua 6 Juta Rupiah.
Dari hal tersebut, Pither berharap agar Pemda mamteng dapat
meningkatkan jumlah beasiswa bagi mahasiswa yang studi akhir dan juga
dapat memberikan beasiswa kepada yang sementara kuliah. Sedangkan untuk
asrama mahasiswa Pither juga berharap agar asrama beasiswa itu juga
secepatnya diselesaikan dan dapat dihuni oleh mahasiswa untuk belajar.
Dikatakan jumlah mahasiswa Mamteng yang menempuh pendidikan di Kota
Jayapura dan sekitarnya saat ini sekitar 750 mahasiswa. Dan mahasiswa
yang studi akhir sudah dua kali mendapat beasiswa dari Pemda Mamteng.
Ditambahkan bahwa tahun ini ada penambahan mahasiswa baru sebanyak 70
mahasiswa baru. Dan saat ini juga pihaknya telah melakukan acara
penyambutan mahasiswa baru yang merupakan bgain dari latihan
kepemimpinan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan penyadaran dan
mendorong mahasiswa untuk lebih bersemangat menempuh pendidikan.
____________________
Sumber: sentaninews.com
____________________
Sumber: sentaninews.com
Mahasiswa Mamteng Duduki Kantor Penghubung Provinsi Papua di Jakarta
“Ini merupakan wujud protes dan bentuk kecaman kami terhadap
pemerintah daerah yang tak kunjung membayar biaya pemondokan atau
kontrakan sementara mahasiswa, termasuk asrama permanen,” jelas Darson
Wenda, Ketua/Kordinator Wilayah Ikatan Mahasiswa Mamberamo Tengah,
ketika ditemui suarapapua.com, Kamis (11/7/2013) siang di Jakarta.
Menurut Wenda, cara menduduki kantor penghubung Papua di Jakarta
adalah jalan paling terakhir yang telah kami tempuh setelah berbagai
upaya damai dan bermartabat telah dilakukan.
“Komunikasi dengan Pemerintah Daerah, terutama dengan Bupati Mamteng,
Bapak Ham Pagawak dan instansi-instansi terkait juga telah kami
lakukan, namun hasilnya tidak ada. Semua janji dan janji, tanpa
realisasi yang nyata,” ujar Wenda.
Wenda menceritakan, massa waktu kontrakan asrama bagi mahasiswa
Mamberamo Tengah di Jakarta, juga di beberapa daerah luar Papua telah
berakhir sejak awal Maret 2013 lalu, dan mahasiswa harus mencari tempat
hunian yang baru.
Jauh-jauh hari sebelumnya, komunikasi dengan Bupati terilih dan
pemerintah daerah telah dilakukan terkait permasalahan tersebut, namun
tidak mendapat respon dan tanggapan yang baik, sehingga setelah
mahasiswa keluar dari kontrakan, ada yang memilih kost sendiri dengan
biaya yang relative sangat mahal.
“Kami justru menumpang di kontrakan milik teman-teman dari Kabupaten
Tolikara. Kami malu sekali, sebab sudah punya kabupaten sendiri, namun
masih numpang di tempat orang lain, ini yang harus di pahami Pemda
Mamberamo Tengah,” ujarnya.
Karena tak ada jawaban pasti terkait nasib mereka, Wenda menuturukan
ia berangkat ke Papua pada bulan Mei 2013 untuk bertemu langsung dengan
Bupati Mamberamo Tengah, Ham Pagawak, untuk menyampaikan persoalan
tersebut.
“Saya hampir dua minggu di Jayapura namun tidak ketemu pak Bupati.
Kemudian saya berangkat ke Wamena, dan untuk selanjutkan ke Kobakma
untuk bertemu pak Bupati, ketika saya sampai di Wamena, saya dengar ada
pertemuaan antara Bupati dengan pejabat SKPD Mamberamo Tengah di Wamena,
karena itu saya datang dan langsung minta waktu bertemu dengan Bupati.”
“Bupati bersedia bertemu dengan saya. Saya menyampaikan semua keluhan
mahasiswa, termasuk dana akhir studi dan dana pemondokan atau asrama
bagi mahasiswa Mamberemo Tengah yang ada diluar Papua. Bupati kemudian
meminta saya ke kembali ke Jakarta, dan berjanji akan segera membentuk
tim, dan melakukan kunjungan ke berbagai kota studi paling lambat
petengahaan bulan Juni 2013.”
Merasa puas dengan pertemuaan tersebut, Wenda mengaku langsung
kembali ke Jakarta, dan menyampaikan hasil petemuaan kepada seluruh
mahasiswa Mamberamo Tengah terkait pesan Bupati yang akan datang di
petengahaan Juni dan akan menyelesaikan persoalan tersebut.
“Namun, sampai petengahaan Juni, bahkan di awal Juli 2013, tidak ada
tanda-tanda atau kejelasan Bupati dan Pemda akan mencarikan solusi
kongkrit untuk mahasiswa. Sehingga kami mahasiswa rapat dan bertemu pada
tanggal 28 Juni 2013, dan bersepakat untuk duduki kantor penghubung
Papua sejak tanggal 3 Juli 2013 hingga saat ini sampai nanti ada
kejelasan dari pemerintah daerah,” ujar Wenda.
Wenda menjelaskan, mahasiswa Mamberamo Tengah yang menduduki kantor
penghubung Papua di Jakarta tidak akan mundur, apalagi keluar dari
kantor tersebut sampai perwakilan pemerintah daerah, terutama Bupati
langsung datang dan bertemu dengan mahasiswa di kantor tersebut dan
menyelesaikan berbagai persoalan.
“Silahkan bisa lihat, setelah kami duduki kantor ini, sudah hampir
satu minggu kantor ini tidak beroperasi lagi. Seluruh pekerja sudah
diliburkan. Kedatangan kami tentu menggangu aktivitas mereka, namun ini
agar menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah, dan kepala kantor
penghubung Papua agar dapat segera berkomunikasi dengan Gubernur Papua
maupun Bupati Mamberamo Tengah,” ujar Wenda.
Bupati Mamberamo Tengah, Ham Pagawak ketika dihubungi media ini tidak
menjawab panggilan telepon seluler. Beberapa pesan singkat yang dikirim
juga tidak dibalas. (OKTOVIANUS POGAU)
_________________________
Sumber: Suara Papua
Edisi: 11 Juli 2013
_________________________
Sumber: Suara Papua
Edisi: 11 Juli 2013
![]() |
| Demo Mahasiswa Papua |
Aksi demo tersebut memeroleh pengawalan ketat dari jajaran Sat Sabhara Polres Sleman. Para petugas sudah berjaga – jaga sejak awal sebelum para mahasiswa datang ke kediaman wakil presiden. Ketika para demonstran tiba, aparat kepolisian pun sudah bersiap membuat barikade hidup untuk menghalangi para mahasiswa memasuki areal rumah Boediono.
Sempat terjadi gesekan antara mahasiswa dan petugas terutama ketika mereka mencoba menerobos barisan ring 1 yang saat itu dipimpin oleh Kasat Sabhara Polres Sleman AKP Yurianto. Di ring 1 ini, para mahasiswa terus mendorong barikade dan hampir saja kericuhan pecah. Lantaran dorongan mahasiswa yang begitu kuat, barisan aparat Kepolisian sempat tak mampu menahan, sehingga membuat mereka harus mundur sejauh sekitar tiga meteran dari barisan awal. Untuk menghindari insiden, keduanya pun menggelar perundingan untuk mengakhiri aksi saling dorong tersbut.
Jalannya aksi demo juga memeroleh perhatian dari TNI. Tampak di lokasi Dandim Sleman Letkol satriyo Pinandoyo yang terjun langsung memback up anggota yang mengamankan aksi demo. Lantaran beberapa kali, mahasiswa asal Papua ini tetap bersikukuh ingin menabrak barisan aparat. Beberapa warung di sekitar lokasi demo pun tampak memilih menutup kios dagangannya, lantaran takut terjadi insiden yang lebih besar. (*)
A chronology of key events: Free Aceh, free West Papua and free Maluku !!
Dutch colonialists were the masters of Indonesia until 1949
1670-1900 - Dutch colonists bring the whole of Indonesia under one government as the Dutch East Indies.
1928 - A youth conference pledges to work for "one nation, one language, one people" for Indonesia.
1942 - Japan invades Dutch East Indies.
1945 - The Japanese help independence leader Sukarno return from internal exile and declare independence.
1949 - The Dutch recognise Indonesian independence after four years of guerrilla warfare.
1950s - Maluku (Moluccas) declares independence from Indonesia and fights an unsuccessful separatist war
1962 - Western New Guinea, or West Papua,
held by the Netherlands, is placed under UN administration and
subsequently occupied by Indonesian forces. Opposition to Indonesian
rule erupts.
Sukarno: Indonesia's founding father
Suharto comes to power
1965 - Failed coup: In the aftermath,
hundreds of thousands of suspected Communists are killed in a purge of
leftists which descends into vigilantism.
1966 - Sukarno hands over emergency powers to General Suharto, who becomes president in March 1967.
1969 - West Papua formally incorporated into Indonesia, becoming Irian Jaya Province.
1975 - Portugal grants East Timor independence.
1976 - Indonesia invades East Timor and incorporates it as a province.
1997 - Asian economic crisis: Indonesian rupiah plummets in value.
1998 - Protests and rioting topple Suharto; B J Habibie becomes president.
East Timor independence vote
1999 - Ethnic violence breaks out in Maluku. Free elections are held in Indonesia.
East Timor votes for independence in UN-sponsored referendum,
after which anti-independence militia go on the rampage. East Timor
comes under UN administration. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) becomes
president.
2000 - Two
financial scandals dog the Wahid administration: Buloggate (embezzled
funds from the state logistics agency), and Bruneigate (missing
humanitarian aid funds from the Sultan of Brunei). The corruption case
against former President Suharto collapses.
Irian Jaya separatists become more vocal in demanding a referendum.
2001 - Ethnic violence in Kalimantan as
indigenous Dayaks force out Madurese transmigrants. Mass political
demonstrations by Wahid's supporters and opponents. IMF stops further
loans citing lack of progress in tackling corruption.
Megawati sworn in
2001 July - Parliament dismisses President
Wahid over allegations of corruption and incompetence. Vice President
Megawati Sukarnoputri is sworn in as his replacement, even as Wahid
refuses to leave the presidential palace.
Continue reading the main story
Papua is a former Dutch colony placed under UN administration
in 1962. Indonesia unilaterally annexed it, but faces a pro-independence
insurgency.
Flashpoint: Papua
2002 January -
Indonesia inaugurates human rights court which is expected to test
government's willingness to hold the military accountable for atrocities
in East Timor after the 1999 independence vote.
Irian Jaya province granted greater autonomy by Jakarta, allowed to adopt locally-preferred name of Papua.
2002 May - East Timor becomes independent.
2002 August - Constitutional changes are
seen as a step towards democracy. For the first time, voters will be
able to elect a president and vice president.
Bali attacks
2002 October - Bomb attack on the Kuta Beach nightclub district on Bali kills 202 people, most of them tourists.
Muslim Cleric Abu Bakar Ba'asyir is arrested shortly after
the bombings. He is accused of plotting to overthrow the government as
the alleged spiritual leader of Jemaah Islamiah (JI), the group thought
to be behind the Bali bombing.
2002 December -
Government and separatist Free Aceh Movement (Gam) sign peace deal in
Geneva, aimed at ending 26 years of violence. The accord provides for
autonomy and free elections in the Muslim oil-rich province of Aceh; in
return the Gam must disarm.
2003 May - Peace talks between government
and Gam separatists break down; government mounts military offensive
against Gam rebels. Martial law is imposed.
2003 August - Car bomb explodes outside the Marriott Hotel in Jakarta, killing 14 people.
2003 August-October - Three Bali bombing
suspects are found guilty and sentenced to death for their roles in the
2002 attacks. A fourth suspect is given life imprisonment.
Abu Bakar Ba'asyir is cleared of treason but jailed for
subversion and immigration offences. The subversion charge is later
overturned.
2004 April - Parliamentary and local
elections: Golkar party of former President Suharto wins greatest share
of vote, with Megawati Sukarnoputri's PDI-P coming second.
2004 July - First-ever direct presidential
elections; first round narrows field to Susilo Bambang Yudhoyono and
incumbent Megawati Sukarnoputri.
2004 September - Car bomb attack outside Australian embassy in Jakarta kills nine, injures more than 180.
Former general Susilo Bambang Yudhoyono wins second round of presidential elections, unseating incumbent Megawati Sukarnoputri.
2004 November - End of two-year process
under which 18 people were tried by Indonesian court for human rights
abuses in East Timor during 1999 crisis. Only one conviction - that of
militia leader Eurico Guterres - is left standing.
Tsunami; Aceh deal
2004 December - More than 220,000 people are
dead or missing in Indonesia alone after a powerful undersea earthquake
off Sumatra generates massive tidal waves. The waves devastate Indian
Ocean communities as far afield as Thailand, India, Sri Lanka and
Somalia.
2005 March - Court finds Muslim cleric Abu
Bakar Ba'asyir guilty of conspiracy over 2002 Bali bombings, sentences
him to two-and-a-half years in jail. He is freed in June 2006.
A powerful earthquake off Sumatra kills at least 1,000
people, many of them on the island of Nias. The quake triggers tsunami
alerts around the Indian Ocean.
2005 August -
Government and Free Aceh Movement separatists sign a peace deal
providing for rebel disarmament and the withdrawal of government
soldiers from the province. Rebels begin handing in weapons in
September; government completes troop pull-out in December.
2005 September - Airliner crashes on
take-off from Sumatran city of Medan, killing more than 100 passengers
and around 50 people on the ground.
2005 October - Three suicide bombings on the resort island of Bali kill 23 people, including the bombers
2006 January - East Timorese report accuses
Indonesia of widespread atrocities during its 24-year occupation,
holding it responsible for the deaths of more than 100,000 people.
2006 February-March - Deadly protests at a
major US-owned gold and copper mine in Papua province follow attempts to
remove illegal prospectors from the site.
2006 May - A powerful earthquake kills thousands of people on Java.
2006 July - A tsunami, triggered by a large undersea earthquake, kills more than 500 people on Java.
Aceh elections
2006 December - First direct elections held
in Aceh province, consolidating the August 2005 peace accord. Former
separatist rebel leader Irwandi Yusuf elected governor.
Aceh's special autonomy status allows the partial practice of Islamic laws
2007 June - Police capture the alleged head of
the militant group Jemaah Islamiah (JI), Zarkasih, and the leader of
the group's military wing, Abu Dujana.
2007 December - Alleged JI leader Zarkasih goes on trial in Jakarta.
2008 January - Former President Suharto dies.
2008 July - Final report by joint
Indonesian-East Timorese Truth Commission blames Indonesia for the human
rights violations in the run-up to East Timor's independence in 1999
and urges it to apologise. President Yudhoyono expresses "deep regret"
but stops short of an apology.
2008 November - Three Islamic militants convicted of carrying out the 2002 Bali bombings are executed.
2009 July - President Susilo Bambang Yudhoyono wins re-election.
Twin suicide bomb attacks on the JW Marriott and Ritz-Carlton hotels in Jakarta kill nine people and injure scores of others.
Pressure mounts on militants
2009 September - Police shoot dead
Indonesia's most-wanted Islamist militant Noordin Mohammad Top, thought
to be responsible for a series of deadly attacks across the archipelago.
Former President Suharto died in 2008. He led Indonesia for 32 years until 1998
2010 February-March - Several suspected
militants are arrested in series of raids on alleged training camps of
groups thought to be linked to Jemaah Islamiah (JI) in Aceh province.
Fourteen men are charged with plotting to launch terrorist attacks.
2010 March - Police shoot dead Dulmatin - an
alleged leading member of JI and the last main suspect in the 2002 Bali
bombings still at large - during a raid on a Jakarta internet cafe.
2010 October - Indonesia admits that men seen torturing Papuan villagers in a video are members of the military.
President Yudhoyono calls off a state visit to the Netherlands because of a threatened bid by separatists to have him arrested.
2010 November - US President Barack Obama
visits, hailing Indonesia as an example of how a developing nation can
embrace democracy and diversity.
2011 February - Two churches are set alight in central Java during a protest by hundreds of Muslims about blasphemy.
Buddhist temple of Borobudur - Indonesia's most visited tourist attraction
Three members of the Ahmadiyah sect, a minority Muslim group, are bludgeoned to death in a mob attack in West Java.
2011 June - Radical cleric Abu Bakar Ba'asyir gets 15-year jail sentence for backing an Islamist militant training camp.
2011 December - Pay deal ends acrimonious
three-month strike by 8,000 workers at copper and gold mine owned by US
company Freeport-McMoran in the restive eastern province of Papua.
Dutch government apologises for massacre of at least 150
people in the village of Rawagede, on the island of Java, in 1947,
during Indonesia's war of independence.
2012 March - Court sentences Islamist
militant Pepi Fernando to 18 years in prison for a parcel-bombing
campaign targeting Muslim leaders and police.
2012 June - Jakarta court sentences
bombmaker Umar Patek to 20 years in prison for his role in the 2002 Bali
attacks. He was extradited from Pakistan in 2011. The sentencing brings
to an end the 10-year investigation into the bombings.
2013 February - Eight soldiers are shot dead in two separate attacks by armed men in Papua province.
2013 June - Parliament approves a major petrol and diesel price hike to cut the ballooning fuel subsidy, sparking violent protests.
2013 September - Via its ambassador in
Jakarta, the Netherlands publicly apologises for summary executions
carried out by the Dutch army in the 1940s.
The TNI has killed over 750,000 Innocent people in West Papua, Timor-Leste and Maluku. We are calling for a BOYCOTT of INDONESIA
Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa dan Bali Desak Pemda Percepat Menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2012
Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa dan Bali Desak Pemda Percepat Menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2013
MALANG, MTS Voice – Forum Pelajar Dan Mahasiswa Kabupaten Mamberamo Tengah, Sekertaris Dewan Pengurus Pelajar Mamberamo Tengah Se-Jawa Dan Bali, Bael Beangsath Wandikbo mendesak Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah Papua segera menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2013 secepatnya.
Hal ini dikemukakan Bael B Wandikbo saat mendatangi Redaksi BCI News, Sabtu 28/07/2013 kemarin. Dijelaskan, setelah mendapatkan kepastian sidang anggaran periode 2012-1017 pelajar dan Mahasiswa sudah cukup memberikan dukungan penuh, di mana semua yang dilakukan demi memajukan pembangunan SDM di Kabupaten Mamberamo Tengah Papua bisa sesuai dengan jadwal dan Sidang yang sudah ditetapkan. “Tapi sampai sekarang kinerja Dinas Pendidikan tahun akademik 2013/2014 masih kurang jelas,” terang Bael B Wandikbo. Ketidakjelasan ini, katanya, disebabkan karena orang-orang yang telah dipercayakan pemda mamteng untuk menangani dana di bidang pendidikan tidak serius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab seakan-akan PEMKAB MAMBERAMO TENGAH menganggap hal sepeleh. Sedangkan Kebutuhan kesejatrahan Pelajar dan Mahasiswa Sejawa Dan Bali banyak yang belum terpenuhi, dan mahasiswapun Sangat dibutuhkan dalam biaya perkuliahan dan banyak keluhan-keluhan mahasiswa asal kabupaten tersebut banyak yang belum belum terealisasi.
Dalam Forum Tersebut, Mahasiswa mengemukakan bahwa kinerja dan realisasi dana pendidikan tahun 2013 yang dipercayakan PEMDA MAMTENG kenerjanya dan realisasinya sangat jelas dan memuaskan ketimbang tahun 2013 ini sampai hari ini tanda-tandapun belum ada, sehingga kami dari IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR DAN MAHASISWA MAMBERAMO TENGAH PAPUA mengambil sikap dalam forum tersebut bahwa :
![]() |
Hal ini dikemukakan Bael B Wandikbo saat mendatangi Redaksi BCI News, Sabtu 28/07/2013 kemarin. Dijelaskan, setelah mendapatkan kepastian sidang anggaran periode 2012-1017 pelajar dan Mahasiswa sudah cukup memberikan dukungan penuh, di mana semua yang dilakukan demi memajukan pembangunan SDM di Kabupaten Mamberamo Tengah Papua bisa sesuai dengan jadwal dan Sidang yang sudah ditetapkan. “Tapi sampai sekarang kinerja Dinas Pendidikan tahun akademik 2013/2014 masih kurang jelas,” terang Bael B Wandikbo. Ketidakjelasan ini, katanya, disebabkan karena orang-orang yang telah dipercayakan pemda mamteng untuk menangani dana di bidang pendidikan tidak serius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab seakan-akan PEMKAB MAMBERAMO TENGAH menganggap hal sepeleh. Sedangkan Kebutuhan kesejatrahan Pelajar dan Mahasiswa Sejawa Dan Bali banyak yang belum terpenuhi, dan mahasiswapun Sangat dibutuhkan dalam biaya perkuliahan dan banyak keluhan-keluhan mahasiswa asal kabupaten tersebut banyak yang belum belum terealisasi.
Dalam Forum Tersebut, Mahasiswa mengemukakan bahwa kinerja dan realisasi dana pendidikan tahun 2013 yang dipercayakan PEMDA MAMTENG kenerjanya dan realisasinya sangat jelas dan memuaskan ketimbang tahun 2013 ini sampai hari ini tanda-tandapun belum ada, sehingga kami dari IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR DAN MAHASISWA MAMBERAMO TENGAH PAPUA mengambil sikap dalam forum tersebut bahwa :
1. Pemerintah Kab.Mamberamo Tengah Segera Pertimbangkan Untuk Hak-Hak Mahasiswa
2. Mahasiswa Menegaskan PEMDA MAMTENG harus turun langsung ke setiap kota study
3. Mahasiswa menegaskan sebelum memasuki bulan agustus 2013 PEMDA MAMTENG harus secepatnya mengambil tindakan dan memfungsikan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan dalam sidang APBD Tahun Ini.
4. Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah harus berjiwa profesional karena Mahasiswa Se-jawa dan Bali adalah kader dan kaderisasi ke depan kabupaten mamberamo tengah, maka pemerintah harus berfikir positim demi SDM mamberamo Tengah Kedepan.
5. Kalau Dana Pendidikan APBD Tahun Akedik 2012-2013 [U][B]TIDAK[/B][/U] terealisasi dengan nyata maka Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa Dan Bali akan menindaklajuti menuntut hak-hak mahasiswa dan menggerakan langkah-langkah lain demi memperjuangkan hak-hak mahasiswa, dan mahasiswa berharap pemda mamberamop tengah jangan kaget dan tidak boleh mempersalahkan mahasiswa jika ada kerusuhan atau ada gerakan-gerakan yang tidak menyenangkan hati pemerintah daerah kabupaten mamberamo tenhag papua, karena mahasiswa akan bergerak atas dan bertindak berdasarkan " Visi dan Misi" Kabupaten Mamberamo Tengah.
Seruan Mahasiswa Mamberamo Tengah Se-Jawa Dan Bali
Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa dan Bali Desak Pemda Percepat Menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2012
Yogja, MTS News – Forum Pelajar Dan Mahasiswa Kabupaten Mamberamo Tengah, Sekertaris Dewan Pengurus Pelajar Mamberamo Tengah Se-Jawa Dan Bali, Bael Beangsath Wandikbo mendesak Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah Papua segera menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2012 secepatnya.
Hal ini dikemukakan Bael B Wandikbo saat mendatangi Redaksi BCI News, Sabtu 28/07/2012 kemarin. Dijelaskan, setelah mendapatkan kepastian sidang anggaran periode 2012-1017 pelajar dan Mahasiswa sudah cukup memberikan dukungan penuh, di mana semua yang dilakukan demi memajukan pembangunan SDM di Kabupaten Mamberamo Tengah Papua bisa sesuai dengan jadwal dan Sidang yang sudah ditetapkan. “Tapi sampai sekarang kinerja Dinas Pendidikan tahun akademik 2011/2012 masih kurang jelas,” terang Bael B Wandikbo. Ketidakjelasan ini, katanya, disebabkan karena orang-orang yang telah dipercayakan pemda mamteng untuk menangani dana di bidang pendidikan tidak serius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab seakan-akan PEMKAB MAMBERAMO TENGAH menganggap hal sepeleh. Sedangkan Kebutuhan kesejatrahan Pelajar dan Mahasiswa Sejawa Dan Bali banyak yang belum terpenuhi, dan mahasiswapun Sangat dibutuhkan dalam biaya perkuliahan dan banyak keluhan-keluhan mahasiswa asal kabupaten tersebut banyak yang belum belum terealisasi.
Dalam Forum Tersebut, Mahasiswa mengemukakan bahwa kinerja dan realisasi dana pendidikan tahun 2011 yang dipercayakan PEMDA MAMTENG kenerjanya dan realisasinya sangat jelas dan memuaskan ketimbang tahun 2012 ini sampai hari ini tanda-tandapun belum ada, sehingga kami dari IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR DAN MAHASISWA MAMBERAMO TENGAH PAPUA mengambil sikap dalam forum tersebut bahwa :
1. Pemerintah Kab.Mamberamo Tengah Segera Pertimbangkan Untuk Hak-Hak Mahasiswa
2. Mahasiswa Menegaskan PEMDA MAMTENG harus turun langsung ke setiap kota study
3. Mahasiswa menegaskan sebelum memasuki bulan agustus 2012 PEMDA MAMTENG harus secepatnya mengambil tindakan dan memfungsikan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan dalam sidang APBD Tahun Ini.
4. Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah harus berjiwa profesional karena Mahasiswa Se-jawa dan Bali adalah kader dan kaderisasi ke depan kabupaten mamberamo tengah, maka pemerintah harus berfikir positim demi SDM mamberamo Tengah Kedepan.
5. Kalau Dana Pendidikan APBD Tahun Akedik 2011-2012 terealisasi dengan nyata maka Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa Dan Bali akan menindaklajuti menuntut hak-hak mahasiswa dan menggerakan langkah-langkah lain demi memperjuangkan hak-hak mahasiswa, dan mahasiswa berharap pemda mamberamop tengah jangan kaget dan tidak boleh mempersalahkan mahasiswa jika ada kerusuhan atau ada gerakan-gerakan yang tidak menyenangkan hati pemerintah daerah kabupaten mamberamo tenhag papua, karena mahasiswa akan bergerak atas dan bertindak berdasarkan " Visi dan Misi" Kabupaten Mamberamo Tengagh.
Sumber : http://baliemcenter.wordpress.com/
| Seruan Mahasiswa Mamberamo Tengah |
MTS news, Jakarta — Sejak
tanggal 3 Juli 2013 hingga saat ini, puluhan mahasiswa Papua asal
Kabupaten Mamberamo Tengah yang sedang mengenyam studi di berbagai kota
di Jawa maupun Bali telah menduduki kantor penghubung Provinsi Papua
yang beralamat di Blok S, Menteng, Jakarta Pusat.
“Ini merupakan wujud protes dan bentuk
kecaman kami terhadap pemerintah daerah yang tak kunjung membayar biaya
pemondokan atau kontrakan sementara mahasiswa, termasuk asrama
permanen,” jelas Darson Wenda, Ketua Kordinator Wilayah Ikatan Mahasiswa Mamberamo Tengah, ketika ditemui suarapapua.com, Kamis (11/7/2013)
siang di Jakarta.
Menurut Wenda, cara menduduki kantor penghubung Papua di Jakarta adalah jalan paling terakhir yang ditempuh mahasiswa setelah berbagai upaya damai dan bermartabat telah mereka lakukan.
“Semua komunikasi dengan pemerintah daerah, terutama dengan Bupati definitive, bapak Ham Pagawak telah kami lakukan. Komunikasi dengan instansi-instansi terkait juga telah kami lakukan, namun hasilnya tidak ada. Semua janji dan janji, tanpa realisasi yang nyata,” ujar Wenda.
Wenda menceritakan, massa waktu kontrakan asrama bagi mahasiswa Mamberamo Tengah di Jakarta, juga di beberapa daerah luar Papua telah berakhir sejak awal Maret 2013 lalu, dan mahasiswa harus mencari tempat hunian yang baru.
Jauh-jauh hari sebelumnya, komunikasi dengan Bupati terilih dan pemerintah daerah telah dilakukan terkait permasalahan tersebut, namun tidak mendapat respon dan tanggapan yang baik, sehingga setelah mahasiswa keluar dari kontrakan, ada yang memilih kost sendiri dengan biaya yang relative sangat mahal.
“Kalau kami justru menumpang di kontrakan milik teman-teman dari Kabupaten Tolikara. Kami malu sekali, sebab sudah punya kabupaten sendiri, namun masih numpang di tempat orang lain, ini yang harus di pahami pemda Mamberamo Tengah,” ujarnya.
Karena tak ada jawaban pasti terkait nasib mereka, Wenda menuturukan ia berangkat ke Papua pada bulan Mei 2013 untuk bertemu langsung dengan Bupati Mamberamo Tengah, Ham Pagawak, untuk menyampaikan persoalan tersebut.
“Saya hampir dua minggu di Jayapura namun tidak ketemu pak Bupati. Kemudian saya berangkat ke Wamena, dan untuk selanjutkan ke Kobakma untuk bertemu pak Bupati, ketika saya sampai di Wamena, saya dengar ada pertemuaan antara Bupati dengan pejabat SKPD Mamberamo Tengah di Wamena, karena itu saya datang dan langsung minta waktu bertemu dengan Bupati.”
“Bupati bersedia bertemu dengan saya. Saya menyampaikan semua keluhan mahasiswa, termasuk dana akhir studi dan dana pemondokan atau asrama bagi mahasiswa Mamberemo Tengah yang ada diluar Papua. Bupati kemudian meminta saya ke kembali ke Jakarta, dan berjanji akan segera membentuk tim, dan melakukan kunjungan ke berbagai kota studi paling lambat petengahaan bulan Juni 2013.”
Merasa puas dengan pertemuaan tersebut, Wenda mengaku langsung kembali ke Jakarta, dan menyampaikan hasil petemuaan kepada seluruh mahasiswa Mamberamo Tengah terkait pesan Bupati yang akan datang di petengahaan Juni dan akan menyelesaikan persoalan tersebut.
“Namun, sampai petengahaan Juni, bahkan di awal Juli 2013, tidak ada tanda-tanda atau kejelasan Bupati dan Pemda akan mencarikan solusi kongkrit untuk mahasiswa. Sehingga kami mahasiswa rapat dan bertemu pada tanggal 28 Juni 2013, dan bersepakat untuk duduki kantor penghubung Papua sejak tanggal 3 Juli 2013 hingga saat ini sampai nanti ada kejelasan dari pemerintah daerah,” ujar Wenda.
Wenda menjelaskan, mahasiswa Mamberamo Tengah yang menduduki kantor penghubung Papua di Jakarta tidak akan mundur, apalagi keluar dari kantor tersebut sampai perwakilan pemerintah daerah, terutama Bupati langsung datang dan bertemu dengan mahasiswa di kantor tersebut dan menyelesaikan berbagai persoalan.
“Silakan bisa lihat, setelah kami duduki kantor ini, sudah hampir satu minggu kantor ini tidak beroperasi lagi. Seluruh pekerja sudah diliburkan. Kedatangan kami tentu menggangu aktivitas merekai, namun ini agar menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah, dan kepala kantor penghubung Papua agar dapat segera berkomunikasi dengan Gubernur Papua maupun Bupati Mamberamo Tengah,” ujar Wenda.
Bupati Mamberamo Tengah, Ham Pagawak ketika dihubungi media ini tidak menjawab panggilan telepon seluler. Beberapa pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas.
Menurut Wenda, cara menduduki kantor penghubung Papua di Jakarta adalah jalan paling terakhir yang ditempuh mahasiswa setelah berbagai upaya damai dan bermartabat telah mereka lakukan.
“Semua komunikasi dengan pemerintah daerah, terutama dengan Bupati definitive, bapak Ham Pagawak telah kami lakukan. Komunikasi dengan instansi-instansi terkait juga telah kami lakukan, namun hasilnya tidak ada. Semua janji dan janji, tanpa realisasi yang nyata,” ujar Wenda.
Wenda menceritakan, massa waktu kontrakan asrama bagi mahasiswa Mamberamo Tengah di Jakarta, juga di beberapa daerah luar Papua telah berakhir sejak awal Maret 2013 lalu, dan mahasiswa harus mencari tempat hunian yang baru.
Jauh-jauh hari sebelumnya, komunikasi dengan Bupati terilih dan pemerintah daerah telah dilakukan terkait permasalahan tersebut, namun tidak mendapat respon dan tanggapan yang baik, sehingga setelah mahasiswa keluar dari kontrakan, ada yang memilih kost sendiri dengan biaya yang relative sangat mahal.
“Kalau kami justru menumpang di kontrakan milik teman-teman dari Kabupaten Tolikara. Kami malu sekali, sebab sudah punya kabupaten sendiri, namun masih numpang di tempat orang lain, ini yang harus di pahami pemda Mamberamo Tengah,” ujarnya.
Karena tak ada jawaban pasti terkait nasib mereka, Wenda menuturukan ia berangkat ke Papua pada bulan Mei 2013 untuk bertemu langsung dengan Bupati Mamberamo Tengah, Ham Pagawak, untuk menyampaikan persoalan tersebut.
“Saya hampir dua minggu di Jayapura namun tidak ketemu pak Bupati. Kemudian saya berangkat ke Wamena, dan untuk selanjutkan ke Kobakma untuk bertemu pak Bupati, ketika saya sampai di Wamena, saya dengar ada pertemuaan antara Bupati dengan pejabat SKPD Mamberamo Tengah di Wamena, karena itu saya datang dan langsung minta waktu bertemu dengan Bupati.”
“Bupati bersedia bertemu dengan saya. Saya menyampaikan semua keluhan mahasiswa, termasuk dana akhir studi dan dana pemondokan atau asrama bagi mahasiswa Mamberemo Tengah yang ada diluar Papua. Bupati kemudian meminta saya ke kembali ke Jakarta, dan berjanji akan segera membentuk tim, dan melakukan kunjungan ke berbagai kota studi paling lambat petengahaan bulan Juni 2013.”
Merasa puas dengan pertemuaan tersebut, Wenda mengaku langsung kembali ke Jakarta, dan menyampaikan hasil petemuaan kepada seluruh mahasiswa Mamberamo Tengah terkait pesan Bupati yang akan datang di petengahaan Juni dan akan menyelesaikan persoalan tersebut.
“Namun, sampai petengahaan Juni, bahkan di awal Juli 2013, tidak ada tanda-tanda atau kejelasan Bupati dan Pemda akan mencarikan solusi kongkrit untuk mahasiswa. Sehingga kami mahasiswa rapat dan bertemu pada tanggal 28 Juni 2013, dan bersepakat untuk duduki kantor penghubung Papua sejak tanggal 3 Juli 2013 hingga saat ini sampai nanti ada kejelasan dari pemerintah daerah,” ujar Wenda.
Wenda menjelaskan, mahasiswa Mamberamo Tengah yang menduduki kantor penghubung Papua di Jakarta tidak akan mundur, apalagi keluar dari kantor tersebut sampai perwakilan pemerintah daerah, terutama Bupati langsung datang dan bertemu dengan mahasiswa di kantor tersebut dan menyelesaikan berbagai persoalan.
“Silakan bisa lihat, setelah kami duduki kantor ini, sudah hampir satu minggu kantor ini tidak beroperasi lagi. Seluruh pekerja sudah diliburkan. Kedatangan kami tentu menggangu aktivitas merekai, namun ini agar menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah, dan kepala kantor penghubung Papua agar dapat segera berkomunikasi dengan Gubernur Papua maupun Bupati Mamberamo Tengah,” ujar Wenda.
Bupati Mamberamo Tengah, Ham Pagawak ketika dihubungi media ini tidak menjawab panggilan telepon seluler. Beberapa pesan singkat yang dikirim juga tidak dibalas.
Seruan Mahasiswa: PEMKAB Mamberamo Tengah Segera Merealisasikan Kesejahtraan Mahasiswa Se-Jawa Dan Bali
KOMPAS-MALANG,BCI News – Forum Pelajar Dan Mahasiswa Kabupaten Mamberamo Tengah, Sekertaris Dewan Pengurus Pelajar Mamberamo Tengah Se-Jawa Dan Bali, Bael Beangsath Wandikbo mendesak Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah Papua segera menyalurkan Dana Pendidikan APBD 2012 secepatnya.
Hal ini dikemukakan Bael B Wandikbo saat mendatangi Redaksi BCI News, Sabtu 28/07/2012 kemarin. Dijelaskan, setelah mendapatkan kepastian sidang anggaran periode 2012-1017 pelajar dan Mahasiswa sudah cukup memberikan dukungan penuh, di mana semua yang dilakukan demi memajukan pembangunan SDM di Kabupaten Mamberamo Tengah Papua bisa sesuai dengan jadwal dan Sidang yang sudah ditetapkan. “Tapi sampai sekarang kinerja Dinas Pendidikan tahun akademik 2011/2012 masih kurang jelas,” terang Bael B Wandikbo. Ketidakjelasan ini, katanya, disebabkan karena orang-orang yang telah dipercayakan pemda mamteng untuk menangani dana di bidang pendidikan tidak serius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab seakan-akan PEMKAB MAMBERAMO TENGAH menganggap hal sepeleh. Sedangkan Kebutuhan kesejatrahan Pelajar dan Mahasiswa Sejawa Dan Bali banyak yang belum terpenuhi, dan mahasiswapun Sangat dibutuhkan dalam biaya perkuliahan dan banyak keluhan-keluhan mahasiswa asal kabupaten tersebut banyak yang belum belum terealisasi.
Dalam Forum Tersebut, Mahasiswa mengemukakan bahwa kinerja dan realisasi dana pendidikan tahun 2011 yang dipercayakan PEMDA MAMTENG kenerjanya dan realisasinya sangat jelas dan memuaskan ketimbang tahun 2012 ini sampai hari ini tanda-tandapun belum ada, sehingga kami dari IKATAN KELUARGA BESAR PELAJAR DAN MAHASISWA MAMBERAMO TENGAH PAPUA mengambil sikap dalam forum tersebut bahwa :
- Pemerintah Kab.Mamberamo Tengah Segera Pertimbangkan Untuk Hak-Hak Mahasiswa
- Mahasiswa Menegaskan PEMDA MAMTENG harus turun langsung ke setiap kota study
- Mahasiswa menegaskan sebelum memasuki bulan agustus 2012 PEMDA MAMTENG harus secepatnya mengambil tindakan dan memfungsikan tugas dan tanggung jawab yang telah dipercayakan dalam sidang APBD Tahun Ini.
- Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah harus berjiwa profesional karena Mahasiswa Se-jawa dan Bali adalah kader dan kaderisasi ke depan kabupaten mamberamo tengah, maka pemerintah harus berfikir positim demi SDM mamberamo Tengah Kedepan.
- Kalau Dana Pendidikan APBD Tahun Akedik 2011-2012 terealisasi dengan nyata maka Mahasiswa Mamberamo Tengah Sejawa Dan Bali akan menindaklajuti menuntut hak-hak mahasiswa dan menggerakan langkah-langkah lain demi memperjuangkan hak-hak mahasiswa, dan mahasiswa berharap pemda mamberamop tengah jangan kaget dan tidak boleh mempersalahkan mahasiswa jika ada kerusuhan atau ada gerakan-gerakan yang tidak menyenangkan hati pemerintah daerah kabupaten mamberamo tenhag papua, karena mahasiswa akan bergerak atas dan bertindak berdasarkan " Visi dan Misi" Kabupaten Mamberamo Tengagh.







.jpg)


