Selamat datang di situs online Ikatan Keluarga Besar Pelajar Dan Mahasiswa Mamberamo Tengah Papua (IKB-PMMTP) Se-Jawa Dan Bali. Ini adalah layanan cacatan harian kami. Silahkan tingalkan pesan, kritik, saran, dan komentar dari anda yang sangat kami harapkan. Wa..Wa..Wa.." Nabua Kabua Yabu Eruok "
  • Slide one

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide two

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide three

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide four

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide five

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

Popular Posts

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.
Papan Pengumuman

Kontak Admin

ikbpmmtp.sejawabali@gmail.com 081231667247

Mamberamo Menjanjikan Tapi Butuh Perhatian

Mamberamo, sungai besar di Papua dan konon direncanakan sebagai salah satu kawasan penggerak ekonomi di Indonesia Timur, ternyata banyak menyimpan misteri dan permasalahan yang belum terjawab. Tiga bulan bekerja sebagai geolog dalam rangka eksplorasi mineral cukup memberikan kesan tersendiri tentang alam, masyarakat, dan problem di seputar kawasan tersebut.

Peta kasonaweja Sebagai salah satu sungai terbesar dan paling terkenal di Papua, Mamberamo secara administratif melewati tiga kawasan kecamatan, yakni Mamberamo Hulu, Tengah, dan Hilir. Di bagian hulunya terdapat dua sungai utama yaitu S. Tariku (Rouffaer) dan S. Taritu (Idenburg) yang bergabung menjadi Sungai Mamberamo dan kemudian secara spektakuler mengalir ke utara memotong Pegunungan Foja, sepanjang lebih dari 150 km hingga mencapai pantai utara Papua. Pada sisi bagian timur ke arah hilir, terdapat danau yang sangat luas yaitu Danau Rombebai yang berukuran sedikit lebih kecil dari Danau Paniai atau Danau Sentani yang merupakan danau-danau besar di Papua.

Jika dilihat dari udara, Sungai Mamberamo mudah dikenal karena ukurannya yang lebih besar dibandingkan dengan sungai lain di sekitarnya dan mempunyai bentuk yang berkelok-kelok. Terkadang di tengahnya terdapat pulau-pulau kecil dan oxbow lake pada tepi-tepinya yang menunjukkan sungai ini telah beberapa kali mengalami perpindahan alur. Karena banyaknya endapan lumpur yang dibawa, air Mamberamo berwarna coklat, bahkan di beberapa tempat berwarna keabu-abuan akibat pengaruh bebatuan di sekitarnya yang dilalui sungai tersebut.

Arus airnya sendiri cukup tenang pada bagian tepinya, namun sangat kuat di bagian tengahnya, bahkan di beberapa tempat tertentu terdapat fenomena arus berputar yang sangat berbahaya. Menurut catatan, telah terjadi beberapa kecelakaan yang merenggut nyawa manusia karena perahu terjebak arus dan akhirnya tenggelam.

Secara geologis, Mamberamo dan kawasan sekitarnya memang cukup menarik karena tersusun oleh endapan batuan sedimen yang tebalnya mencapai ribuan meter serta terpotong-potong oleh struktur geologi yang rumit. Juga karena masih dipengaruhi oleh tekanan tektonik aktif, di beberapa tempat muncul fenomena alam berupa keluarnya semburan lumpur dari dalam bumi (mudvocano). Fenomena ini mudah dikenali dari penampakan di lapangan yang jika diamati dari udara bentuknya berupa kumpulan lumpur dan pasir berwarna abu-abu berbentuk sirkuler dengan diameter lebih dari 50 m yang muncul di tengah-tengah hutan lebat.

Legenda suku wanita dan buaya

Perjumpaan para pendatang dengan penduduk asli di seputar kawasan Mamberamo biasanya berlangsung singkat dan tidak sengaja. Misalnya pada saat bekerja di lapangan karena base camp eksplorasi mineral tambang PT Iriana Mutiara Mining terletak di Desa Kasonaweja yang terletak di tepi Sungai Mamberamo. Sikap para penduduk umumnya bersahabat. Mereka yang tinggal di tepi-tepi sungai mampu berbahasa Indonesia dengan baik karena lebih sering kontak dengan orang luar. Namun, yang tinggal di pedalaman terpaksa menggunakan bahasa isyarat, sebab masih sulit berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.
 
Pengalaman menarik banyak dijumpai di daerah pedalaman yang termasuk hulu dari cabang-cabang Mamberamo. Saat kami datang dengan helikopter, reaksi suku setempat bermacam-macam; ada yang lari ketakutan dan bersembunyi, ada yang muncul kembali setelah merasa kami tidak berbahaya, ada juga yang langsung menyongsong dengan rasa ingin tahu yang besar.

“Heriiii! Herriii!” demikian teriakan sebagian warga Kasonaweja yang agak sulit mengucapkan huruf L, ketika mendengar bunyi helikopter di kejauhan. Mereka pun berlarian menuju lapangan rumput untuk menonton helikopter. Padahal, bagi para pekerja pendatang bunyi helikopter belum terdengar karena masih jauh. Namun telinga warga setempat jauh lebih peka dari pada pendatang.

Pada beberapa kesempatan pertama, perjumpaan dengan warga seringkali agak menegangkan karena mereka masih curiga dengan kehadiran kami sebagai pendatang. Namun akhirnya menjadi pengalaman yang menyenangkan setelah terjadi komunikasi meskipun dengan bahasa isyarat. Bahkan mereka membantu mengambilkan contoh-contoh batuan dan sedimen sungai. Garam dan tembakau merupakan barang yang harus kami bawa sebagai alat pembuka komunikasi. Kalau komunikasi terjalin semkain lancar, ubi dan pisang, bahkan daging binatang buruan mereka diberikan kepada kami sebagai balasan. Suku-suku yang pernah kami jumpai di sekitar S. Mamberamo bermacam-macam. Yang tinggal di daerah hulu dan berpegunungan, kaum pria memakai koteka sementara yang wanita mengenakan cawat. Sedangkan yang tinggal di dataran yang lebih rendah umumnya tidak memakai koteka, bahkan ada yang tidak berpakaian sama sekali serta hidup dalam kelompok-kelompok kecil. Selain itu ada juga suku yang cukup dikenal masyarakat di sekitar Mamberamo Tengah dan hidup secara nomaden atau semi nomaden dan terkesan unik jika dibandingkan dengan suku lainnya. Di antaranya adalah suku Baudi atau Bauzi. Suku inilah satu-satunya yang membuat rakit untuk melayari cabang-cabang Mamberamo.
 
Dari barang-barang yang dimiliki terlihat bahwa umumnya mereka sekali-kali pernah kontak dengan orang luar. Menurut seorang tokoh masyarakat di Kasonaweja konon kanibalisme masih berlaku pada masa sebelum misionaris datang. Masa itu, suku yang kalah perang dimakan dagingnya oleh suku yang menang. Ada juga cerita menarik mengenai adanya satu suku di daerah Mamberamo yang anggotanya hanya wanita. Jika bertemu atau menangkap pria, mereka memaksa untuk hubungan badan agar mendapatkan keturunan wanita lagi. Namun bila bayi yang lahir pria maka akan dibunuh. Ketika saya katakan bahwa kemungkinan hal tersebut hanyalah cerita belaka, dengan penuh keyakinan warga Kasonaweja tersebut membantah dan mengatakan bahwa suku tersebut benar-benar ada.

Cerita lain yang tidak kalah menariknya adalah buaya-buaya S. Mamberamo yang populasinya terbesar di Papua. Menurut Pak Hamzah, mantan pemburu buaya yang berasal dari Sulawesi dan sudah berkeliaran di Papua sejak tahun 1967 mengatakan bahwa buaya-buaya akan banyak keluar dari sarangnya pada malam hari sehingga perburuan buaya banyak dilakukan pada malam hari dengan menggunakan perahu dan tombak. Setelah dikuliti, kulitnya dibawa ke Jayapura untuk dijual. “Dulu orang Mamberamo belum pakai baju semua,” demikian tuturnya pada kami. Perburuan buaya sekarang memang sudah dihentikan karena harga kulitnya yang jatuh dan ekspor ke luar negeri dihentikan.
Kayu bakar, bangku sekolah
 
Karena selama survai tinggal di Kasonaweja, wajar saja kalau desa ini yang paling kami kenal. Seperti pada umumnya desa-desa yang terisolir di Papua, maka Kasonaweja juga memiliki problem yang sama dalam hal transportasi dan akses.

Sebagai ibukota kecamatan Mamberamo Tengah, Kasonaweja memiliki sarana pendidikan berupa SD dan SMP. Jika diperhatikan dari luar gedung SMTP-nya tampak bagus, bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan gedung SMTP yang ada di daerah pedalaman Jawa karena dibangun dari kayu-kayu yang berkualitas baik. Namun jika ditengok lebih jauh kondisi kegiatan akademiknya, baik SD maupun SMTP-nya ternyata sangat memprihatinkan.

Problem yang sampai kini masih mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar adalah langkanya guru pengajar. Kalau ada satu atau dua, mereka harus merangkap beberapa mata pelajaran sekaligus. Hal ini disebabkan oleh permasalahan transportasi dan akses yang sulit. Beberapa guru yang cuti ke Jayapura pada akhir semesteran seringkali terlambat masuk selama berminggu-minggu dengan alasan kesulitan transportasi padahal para muridnya rajin masuk sekolah setiap hari. Kasihan para murid yang datang jauh-jauh dari kampung lain dengan menggunakan perahu, seringkali terlantar.

Kondisi SD-nya lebih memprihatinkan lagi karena beberapa di antaranya tidak memiliki kursi dan bangku untuk belajar, sehingga para murid terpaksa harus belajar di lantai. Tidak jelas mengapa sampai tidak ada meja dan kursi. Menurut seorang warga, dulu barang-barang tersebut banyak diambil orang untuk kayu bakar dan keperluan lainnya.

Permasalahan kesehatan di Kasonaweja ternyata juga amat perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Jika menengok kondisi Puskesmas sepertinya tidak ada kehidupan karena mantrinya tidak selalu berada di tempat. Akibatnya, seringkali warga yang sakit datang kepada kami. Kebetulan kami mempunyai seorang paramedik beserta obat-obatan yang cukup memadai. Entah bagaimana nasib kampung-kampung lain yang terletak jauh di pedalaman!
 
Namun saat perayaan HUT RI ke-51 di Kasonaweja berlangsung sangat meriah, sama meriahnya dengan di tempat-tempat lain di Indonesia. Banyak warga dari desa lain di Kecamatan Mamberamo Tengah datang ke Kasonaweja untuk mengikuti perayaan tersebut, mulai dari upacara bendera, pertandingan olahraga hingga pagelaran kesenian yang berasal dari suku-suku setempat. Kebetulan kami turut diundang dan sempat mencicipi hidangan daging burung Kasuari dan Papeda yang terbuat dari sagu.

Tiga bulan di seputar kawasan Mamberamo memberikan gambaran tersendiri. Semoga harapan untuk memecahkan keterisolasian kawasan tersebut cepat terealisasi karena kabarnya Mamberamo sedang direncanakan untuk dijadikan salah satu kawasan penggerak ekonomi di Indonesia Timur. Menurut Camat Mamberamo Tengah, BPPT kini tengah mengkaji kemungkinan untuk membangun PLTA dengan memanfaatkan air sungai Mamberamo dan pembangunan landasan pesawat terbang yang lebih besar.

Yang perlu diingat, membangun Papua bukan pekerjaan mudah. Dalam satu artikel menarik tentang Papua karangan Thomas O’Neill yang dimuat dalam majalah National Geographic edisi Februari 1996 menyebutkan bahwa Papua sebagai “… one of the wildest, most isolated frontiers on earth“. Oleh karenanya tidaklah heran jika pembangunan daerah tersebut membutuhkan dana yang sangat besar, perencanaan yang matang serta dedikasi yang tinggi. Lebih bagus lagi apabila putra daerah dapat berperan besar untuk dapat membangun wilayahnya sendiri. (R.I. Rafianto)
_________________________________
Sumber: http://klipingut.wordpress.com
Penulis Aricle:  R.I. Rafianto