Selamat datang di situs online Ikatan Keluarga Besar Pelajar Dan Mahasiswa Mamberamo Tengah Papua (IKB-PMMTP) Se-Jawa Dan Bali. Ini adalah layanan cacatan harian kami. Silahkan tingalkan pesan, kritik, saran, dan komentar dari anda yang sangat kami harapkan. Wa..Wa..Wa.." Nabua Kabua Yabu Eruok "
  • Slide one

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide two

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide three

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide four

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

  • Slide five

    Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Suspendisse id lobortis massa. Nunc viverra velit leo, sit amet elementum mi. Fusce posuere nunc a mi tempus malesuada. Curabitur facilisis rhoncus eros eget placerat. Aliquam semper mauris sit amet justo tempor nec lacinia magna molestie. Etiam placerat congue dolor vitae adipiscing. Aliquam ac erat lorem, ut iaculis justo. Etiam mattis dignissim gravida. Aliquam nec justo ante, non semper mi. Nulla consectetur interdum massa, vel porta enim vulputate sed. Maecenas elit quam, egestas eget placerat non, fringilla vel eros. Nam vehicula elementum nulla sed consequat. Phasellus eu erat enim. Praesent at magna non massa dapibus scelerisque in eu lorem.

Popular Posts

Followers

Diberdayakan oleh Blogger.
Papan Pengumuman

Kontak Admin

ikbpmmtp.sejawabali@gmail.com 081231667247
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Saatnya Anak Mamteng Bersatu

Sentani, 25/3 (Jubi) – Bupati Mamberamo Tengah (Mamteng), Ricky Ham Pagawak mengajak semua pihak yang berbeda pendapat di masing-masing  kelompok karena politik, harus bersatu. Sehingga bersatu bergandengan tangan membangun wilayah Mamteng dari ketertinggalan di berbagai bidang.

Ini disampaikan Pagawak dalam sambutannya saat resepsi pelantikan di halaman Sekolah Tinggi  Teologi GIDI, Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (25/3).  “Kita kemarin berada di masing-masing kelompok karena politik. Kini saatnya kita bersatu,” ujar Pagawak mengajak semua pihak.

Menurut Pagawak, semua yang berbeda itu harus bersatu membangun wilayah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya pada tahun 2008 ini. “Kami ajak semua bergandengan tangan menuju ke Mamteng untuk membangun,” katanya. Dalam rangka membangun bersama itu, Pagawak berharap kepada pihak legislatif Kabupaten Mamteng mendukung kebijakannya tanpa melihat perbedaan padangan politik. “DPR jangan lihat kebijakan kami dari sisi politik tetapi dari pembangunan. Kepada SKPD, kami ajak ke Mamteng untuk kerja tetapi bagi yang masih mau berkeliaran di kota silahkan terus saja,” tegasnya. (Jubi/Mawel)
______________________
Sumber: Tabloit Jubi
Edisi: 25 Maret 2013

Gubernur: Memberamo Tengah Akan Menjadi Sumber Terang Kepada Kabupaten Lain di Papua

Kabupaten Memberamo Tengah yang baru dua tahun berdiri telah memperlihatkan kemandirian dalam pembangunan, terbukti dari selesainya pembagunan Kantor Bupati, Gedung DPRD dan Puskesmas Rawat Inap serta perumahan para pejabat kabupaten tersebut bahkan demi lancarnya hubungan komunikasi di kabupaten yang sangat terosolir itu bupati bekerjasama dengan Telkomsel telah membangun pemancar Telkomsel.



Apa saja kebijakan Bupati David Pagawak di Kabupaten Memberamo Tengah dalam mempercepat pembangunan berikut laporannya: Sebagaimana Motto Kabupaten Memberamo Tengah “Nabuwa Kabuwa Yabu Eruwok artinya Membangun Dalam Kasih” Bupati Memberamo Tengah David Pagawak,S.Sos memulai pembangunan dengan dasar kebutuhan rakyat tanpa mengabaikan kebijakan nasional yang menepatkan Papua sebagai paru-paru dunia sehingga tidak akan mengganggu lingkungan hidup, apalagi keberadaan wilayah Memberamo Tengah yang 90 persen adalah Kawasan Hutan Lindung Nasonal.
Seiring dengan usia pemekaran kabupaten Memberamo Tengah yang baru berusia 2 tahun berjalan belum bisa berbuat banyak, namun sebagaimana tugas pokok caretaker bupati telah meletakkan dasar awal pembangunan kabupaten tersebut mulai dari pembentukan pemerintahan dengan menempatkan aparatur pemerintah yang bisa melaksanakan tugas-tugas pemerintahan secara baik dan bertanggungjawab, melaksanakan pemilihan anggota legislative bersamaan dengan pelaksanaan Pemilihan Presiden pada masa lalu dan persiapan infrastuktur seperti pembangunan Kantor Bupati, Kantor DPRD Memberamo Tengah dan pembangunan sarana dan prasarana lainnya, kemudian mempersiapkan pelaksanaan pemilukada untuk pemilihan bupati definitive.

Meskipun berbagai tantangan dalam pelaksanaan pembangunan dihadapi, seperti sulitnya transportasi, namun demi komitmen untuk membangun kesejahteraan rakyat hal itu tidak berarti. Berbagai usaha dilakukan Bupati bersama jajarannya untuk terlaksananya pembangunan yang diharapkan.
Melihat perkembangan pembangunan yang sudah ada Gubernur Papua, Barnabas,SH dalam kunjungan Turun Kampung di Kabupaten tersebut yang dipusatkan di ibukota Kabupaten Kobakma menyatakan salut terhadap bupati David Pagawak, meskipun menghadapi sulitnya transportasi kedaerah itu tetapi telah mampu membangun secara cepat, tidak seperti daerah pemekaran lain yang sama-sama berdiri dengan kabupaten Memberamo Tengah.

“ Kabupaten ini sudah memiliki jaringan telekomunikasi [Telkomsel] ini merupakan satu kemajuan yang tidak dimiliki daerah pemekaran lain,” ujarnya saat meresmikan Kantor Bupati Memberamo Tengah dan berbagai proyek tahun anggaran 2009 serta Pemancar Telkomsel, Sabtu [10/7] lalu. Bahkan melihat perencanaan tata ruang pembangunan kota Kobakma yang sangat baik dengan program Botanical Garden [ Hutan Dalam Kota], Gubernur Papua, Barnabas Suebu,SH minta kepada Bupati agar program itu benar-benar dilaksanakan sebab Kobakma akan menjadi salah satu perhatian dunia dan akan menarik datangnya turis ke daerah itu.  Apalagi letak kabupaten Memberamo Tengah yang berada di antara Gunung dan Daerah Aliran Sugai Memberamo mengandung banyak potensi kekayaan alam. 

Salah satu saat ini yang sedang dilakukan pemerintah provinsi Papua adalah survey untuk pembangunan PLTA Sugai Memberamo, yang berada di wilayah pemerintahan kabupaten Memberamo Tengah.  Potensi listrik yang akan dihasilkan PLTA Memberamo cukup besar yang akan memenuhi kebutuhan listrik untuk Kabupaten Memberamo Tengah, Memberamo Raya, kabupaten /kota Jayapura, Sarmi, Waropen, Kepulauan Serui bahkan melalui saluran bawah alaut akan mencapai Biak dan kabupaten lain diderah pengunungan.

“ Memberamo Tengah akan menjadi sumber terang kepada kabupaten lain di Papua,” ujar Gubernur Suebu.

Selain memiliki potensi kekayaan alam yang cukup besar, kabupaten Memberamo Tengah yang merupakan 90 persen kawasan Hutan Lindung, maka pembangunan yang dilaksanakan tidak dengan merusak lingkungan, karena dengan menjaga ekosistem alam Memberamo Tengah akan mendapat dana konpensasi yang cukup besar dari dunia.  Sebab saat ini hanya ada tiga negara di dunia yang dipertahankan menjadi pelindung planet ini yakni Indonesia [Papua], Brazil dan Kogo, maka hutan yang ada harus dijaga secara baik. [bersambung]

Masyarakat Minta Dana Rp 100 Juta Ditambah (Bag 2/Selesai)
Pemberian dana Respek kepada masyarakat telah membawa perubahan pola pikir bagi masyarakat, ada kegiatan pembangunan yang melibatkan masyarakat membuat mereka merasa diperhatikan, hanya saja dana Rp 100 Juta dari Pemprov dan Rp 50 Juta dari Pemkab dinilai masih sangat kurang oleh masyarakat. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap dana Respek tersebut berikut laporannya.


Kemajuan yang dialami masyarakat menuntut pola hidup yang lebih baik, namun masyarakat khususnya yang berada di daerah pedalaman Papua sulit untuk mendapatkan uang sehingga kemandirian sebuah keluarga sulit untuk dicapai.

Respek merupakan satu-satunya harapan yang menjadi sumber pendapatan bagi keluarga, sebab apapun yang dikerjakan masyarakat tidak bisa menjadi uang, tanha Papua memang subur, apapun yang ditanam masyarakat pasti akan berhasil hanya saja hasil pertanian mereka berupa keladi, sayur, petatas dan jenis buahan lain yang ditanam mereka tidak bisa menjadi uang karena tidak bisa dipasarkan , akhirnya mereka hanya cukup untuk menanam untuk kebutuhan keluarga.

Disamping itu kondisi itu mempengaruhi aktivitas masyarakat, sehingga masyarakat lebih banyak malasnya dari pada bekerja. Ini menjadi satu tantangan yang harus dipikirkan pemerintah setempat. Apakah dengan pemberian dana Respek sudah cukup untuk memberikan rakyat tenang ?, hal itu belum tentu sebab kehidupan modernisasi akan menuntut masyarakat untuk memiki sesuatu seperti yang dimiliki masyarakat di kota.

Hal kitu sudah terbukti dari pertanyaan para warga kabupaten Memberamo Tengah kepada Gubernur Papua, Banabas Suebu,SH saat kunjungan Turkam di kabupaten tersebut yang dipusatkan di Kobakma.
Masyarakat minta kepada Gubernur agar dana Respek Rp 100 Juta ditambah mengingat dana itu sangat kecil dibandingkan dengan kesulitan daerah mereka. Hanya saja gubernur mengatakan pemerintah tetap berpikir untuk menambah dana tersebut, namun harus dilihat dari kekuatana dana pemerintah yang ada. Bahkan saat ini pemerintah provinsi Papua akan merobah pola pemberian dana Respek yang didasarkan pada Jumlah penduduk dalam satu Kampung, kesulutan daerahnya. Sehingga dengan pola ini kampung satu dengan kampung yang lain tidak sama jumlah dana Respeknya. Atau dengan kata lain semakin banyak jumlah penduduk satu kampung akan semakin besar dana Respeknya, demikian dengan tingkat kesulitan, kampung yang berada di kota tidak sama besar dana Respeknya dengan kampung yang berada di pedalaman.

Gubernur tidak berjanji tetapi sudah konsep bahwa dana Respek akan ditambah jumlahnya, hanya saja harus disesuaikan dengan dana yang ada pada pemerintah. “ Ini bukan janji tetapi konsep, jangan sampai nanti masyarakat menuntut janji gubernur , karena masyarakat selalu menuntut janji,” kata Gubernur.
Untuk itu gubernur minta agar masyarakat benar-benar bekerja dengan baik dan harus bersabar. Jika rakyat memanfaatkan dana Respek yang ada dengan baik sesuai dengan aturan yang ada, tentu akan membawa dampak yang positif bagi perbaikan kehidupan rakyat. Melalui dana Respek diharapkan akan terjadi perubahan dalam diri rakyat sebab tujuan respek adalah rakyat.

“ Kehidupan rakyat tidak boleh hanya begini-begini terus [Tertinggal dan miskin-Red] , karena Tanah Papua adalah tanah yang kaya raya. Tetapi perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri,” tegas gubernur.
Bahkan gubernur mengatakan, bahwa semua yang dilakukan ini barulah awal sehingga kalau dari awal sudah bagus maka pada akhirnya juga akan baik.
Sementara itu Bupati Memberamo Tengah, David Pagawak, S.Sos saat memberikan pengarahan terhadap para kepala Kampung, Sekretaris kampung dan pendamping Respek minta agar segera memberikan pertanggungjawaban terhadap penggunaan dana Respek. Sebab uang tersebut adalah uang negara yang harus jelas penggunaannya.

Selain itu, bagi Tim pendamping yang tidak benar-benar bekerja supaya diusulkan diganti, dengan mengajukan pergantian melalui kepala Distrik, kemudian diajukan ke Bupati dan Bupati mengajukan ke Gubernur melalui Biro Pemerintahan Kampung .

Disamping itu Bupati juga minta agar pembagian dana Respek 15 persen untuk Tim PKK benar-benar diberikan, sehingga Tim PKK dapat menggunakan dana itu untuk perbaikan Gizi Ibu dan Anak , sebab tujuan dari pemberian dana respek adalah untuk kesejahteraan keluarga, jika keluarga tidak sehat maka kesejahteraan keluarga tidak akan tercapai. [Selesai]
_______________________________
Sumber : Papuapos.com
Penulis: Wilpret/Papos
Edisi  : Rabu, 14 Juli 2010 00:00
———————–

Kobakma Dalam Kungkungan Isolasi

Medan yang sulit menjadi salah satu faktor tingginya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat dan pemerintah untuk mencapai Kobakma, Ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah.  Hal itu, sangat berpengaruh terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat. Sehingga dibutuhkan langkah-langkah cerdas untuk mengatasi kesulitan ini.

Belum lama ini, Tabloid Suara Perempuan Papua, berkesempatan mengunjungi Kobakma melalui Wamena, masih segar dalam ingatan ketika itu Hari Selasa, cuaca terlihat baik karena jejeran pegunungan Cartenz yang terletak membujur mengelilingi “Baliem Valey” terlihat jelas, hijau membiru, meski sesekali di bagian puncak gunung terbungkus awan.  Di balik kokpit, Pilot Heri tengah melakukan persiapan untuk penerbangan, terlihat kedua tangannya sedang mengotak-atik perlengkapan, sambil sesekali tangannya diangkat di dekat wajahnya untuk melihat jarum jam.  Kontak dengan petugas jaga di lapangan terbang Kobakma terus dilakukan untuk memastikan bahwa pesawat dapat diterbangkan.

Beberapa menit kemudian, pesawat terasa bergerak menuju landasan pacu. Getaran kuat sangat terasa,  pesawat sedang dikonsentrasikan untuk lepas landas. Selang beberapa detik kemudian kami pun sudah mengangkasa. Terlihat pemandangan Kota Wamena yang semakin asri.  Bentangan alam dan kebun-kebun penduduk serta letak kontur Tata kota Wamena yang semakin bagus. Tampak kemajuan pembangunan pasca terpilihnya John Wempi Wetipo dan John Banua menjadi Bupati dan Wakil Bupati di daerah itu.
Dari Wamena ke Kobakma, ditempuh selama 15 menit. Saat berangkat jarum jam menunjukan pukul 09.00 pagi, sehingga dalam perhitunganku hanya dalam waktu tersebut pesawat yang kami tumpangi sudah mendarat di Kobakma. Landasan pacunya jika diperhitungkan tidak lebih lebar dari panjang lapangan sepak bola. Cukup untuk penerbangan pesawat jenis cesna, sepeprti yang kami tumpangi pagi itu.

Pesawat menjadi satu-satunya sarana transportasi utama, cepat, dan mahal. Mahal karena untuk menggunakan pesawat ini, biasanya dikenakan ongkos sewa yang terbilang sangat mahal. Sebab untuk sekali penerbangan dari Wamena-Kobakma ongkosnya dapat mencapai Rp 25 juta. Itu pun untuk sekali terbang jika bolak balik maka duakali lipat harganya. Tak heran hanya pejabat daerah saja yang dapat menggunakan pesawat untuk urusan dan berbagai keperluan pemerintahan. jika untuk urusan biasa maka jalan kaki adalah pilihan yang mau tidak mau harus ditempuh.

Dari Kobakma ke Wamena atau sebaliknya memang belum ada jalan darat yang mulus, meski dapat ditembus oleh kendaraan jenis L200 namun hanya sampai di Yalimo. Tentu saja hal itu disebabkan kondisi medan yang sangat sulit. Letaknya di kemiringan jurang terjal dan kadang harus melalui sungai yang lebar dan berada di belantara hutan yang sangat lebat.

Kondisi ini, tentu saja butuh kerja keras dan perhatian serius dari pemerintah untuk membuka atau menerobos isolasi daerah guna menjangkau masyarakat yang hidupnya terpencar-pencar dan jauh di tengah belantara. Karena kesulitan transportasi seperti ini, makanya tidak heran jika masyarakat harus rela berjalan kaki ratusan kilometer untuk mencapai kota Wamena. Wamena memang telah menjadi pusat san sentral perputaran seluruh roda perekonomian di wilayah pegunungan Tengah Papua. Jauh sebelum ada Kabupaten-kabupaten baru yang lain, Wamena adalah Ibukota induk dan menjadi pusat aktvitas kegiatan masyarakat dan pemerintahan. Wamena juga menjadi titik jangkau yang mudah dijangkau dari berbagai arah, sehingga meski berjalan kaki ratusan kilometer, Kota Wamena pasti dapat dijangkau, meski harus melewati lembah, mendaki bukit dan menyusuri lembah-lembah.
Dari Wamena ke Kobakma untuk ongkos pesawat biasa harganya bisa mencapai Rp 2,5 juta/orang  sedangkan dari Kobakma-Wamena relatif murah, Rp 350 ribu/orang. Biasanya untuk menentukan harga tiket pesawat dilakukan sesuka hati para pilot atau awak pesawat karena situasi yang serba sulit dan tidak ada alternatif lain, sehingga disinilah pertaruhan harga menjadi satu-satunya pilihan yang tidak bisa ditawar-tawar oleh calon penumpang pesawat.
Kondisi ini dipandang sangat menyiksa, apalagi jika warga yang punya uang, atau jika ada uang tapi sangat sulit mengaskses penerbangan karena harus membayar mahal untuk sekali penerbangan dengan ongkos sewa pesawat yang terbilang gila-gilaan.

Meski sulit secara ekonomi untuk memanfaatkan jasa penerbangan, namun keterbatasan ini tidak menyurutkan semangat hidup warga di Kobakma untuk tidak menikmati pembangunan.  Meski cukup jauh namun aktivitas perekonomian warga tetap berjalan meski dalam skala tradisional, karena ada hari-hari yang dikhususkan untuk berjualan. Biasanya mereka menyebutnya dengan hari pasar. Hari pasar di sana berlangsung pada Selasa, Kamis dan Sabtu. Pada hari-hari seperti ini biasanya ibukota distrik sangat ramai dikunjungi warga, mereka melakukan transaksi untuk berbagai keperluan dan umumnya hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok (makan, minum dan pakai).

Dalam perspektif  orang di luar mereka perjalanan panjang dengan berjalan kaki dari dan kembali ke Kobakma merupakan sebuah penyiksaan yang maha berat. Tapi justru terbalik dengan warga asli Kobakma atau mereka yang saat ini bertugas disana, berjalan kaki adalah hal yang paling murah dan dapat menghemat pengeluaran hingga jutaan rupiah. Bisa dibayangkan mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk waktu yang singkat dalam sekali penerbangan, misalnya 15 menit dari Wamena dan 40 menit dari Jayapura. Sudah begitu, pesawat pun tak rutin menyinggahi Kobakma, dalam sebulan barangkali hanya sekali penerbangan normal, jika dikunjungi pesawat beberapa kali maka tentu saja pesawat tersebut sedang di sewa. Biasanya oleh Pejabat Pemerintah atau oleh misi pelayanan gereja atau oleh para peneliti atau dari organisasi non pemerintah lainnya. Umumnya Kobakma dilayani oleh pesawat berukuran kecil seperti cesna, pilatus porter dari maskapai penerbangan sipil seperti AMA, MAF, Yajasi, Susi Air dan Spirite of Papua. 

Harga Barang Selangit

Kesulitan geografis menjadi salah satu penyebab tingginya harga barang di Ibukota Kabupaten Mamberamo Tengah, Kobakma. Betapa tidak, untuk mengangkut berbagai barang kebutuhan baik untuk keperluan aparat pemerintah maupun untuk kebutuhan masyarakat maka mau tidak mau harus diangkut melalui udara. Tentu saja hal ini membutuhkan biaya tinggi sebab belum ada jalur transportasi darat yang dapat menghubungkan Kobakma dengan Wamena sehingga berbagai barang kebutuhan rakyat dapat diangkut melalui jalur transportasi darat.

Seperti telah diceritakan diatas bahwa hanya pejabat daerah dan pelaku bisnis yang dapat menggunakan pesawat dengan patokan harga sewa hingga menembus puluhan juta rupiah. “Tak ada penerbangan tetap sehingga penerbangan dari Wamena dan Jayapura biasanya dicarter pejabat atau kebutuhan bisnis bisa mencapai Rp 25-27 juta, sekali terbang”, ujar Harun, Kapala Distrik Kobakma.

Menurutnya, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan primer masyarakat. Tak heran harga kebutuhan ekonomi di Kobakma, tergolong mahal. misalnya untuk satu kilo gula pasir mencapai Rp 50 ribu, beras 1 kg Rp 30 ribu, dan minyak tanah Rp 20 ribu per liternya.
Memang sangat sulit dan bisa dibayangkan betapa harga barang menjulang tinggi. Meski tergolong sangat tinggi namun harus dibeli karena tidak ada lagi alternatif lain.

Disisi lain masyarakat tetap melakukan aktivitas jual beli seperti biasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan hasil-hasil kebun mereka seperti sayur-sayuran ( buncis, kol, sawi);  ubi jalar, keladi, pisang, pepaya, sagu, kacang tanah dengan harga yang relatif murah dan dapat dijangkau oleh pembeli yang umumnya adalah masyarakat biasa dan para pegawai kecamatan.

Meski demikian, Kobakma pun memiliki potensi yang luar biasa, dimana secara ekonomi ia menjadi daerah yang sangat subur dan dapat dijadikan sebagai sentra produksi sayur-mayur, karena dari Kobakma ada sejumlah sayuran yang dijual ke Wamena dengan menggunakan pesawat. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Adelina, (nama samaran) meskipun bukan pebisnis kelas kakap namun ia cukup paham dengan peluang-peluang bisnis yang dapat digarap meski hanya skala kecil. Kepada media ini ia mengaku bahwa dari berjualan hasil kebun ia mampu menopang kebutuhan rumah tangganya. Ia bahkan meluaskan jaringan bisnisnya dengan mendatangkan pinang dari Wamena dan Jayapura, dan dijualnya dengan harga spesial di Kobakma, dan tentu saja dari hasil penjualannya itu dirinya dapat dengan leluasa keluar masuk Kobakma untuk urusan bisnis.
Kantor Bupati Mamberamo TengahSementara itu, Kepala Distrik Kobakma, Aruam Pagawak, dalam sebuah perbincangan dengan TSPP mengatakan bahwa kondisi medan di Kobakma cukup sulit, sehingga sering menjadi kendala dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan. Namun dari kondisi tersebut dirinya tetap melayani berbagai kebutuhan masyarakat dan menjadi menghubung bagi berbagai kepentingan pemerintah di distrik.

Ia juga sangat berharap agar kedepannya  Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah dapat berusaha keras untuk membuka isolasi daerah dengan membangun jalan tembus Kobakma – Wamena, dan bekerja sama untuk merintis masuknya penerbangan reguler sehingga dalam sebulan atau seminggu minimal ada beberapa kali penerbangan keluar masuk Kobakma. “kami berharap demikian khusus untuk pesawat agar dijadwalkan sehingga memudahkan pelayanan pemeritahan kepada masyarakat”, papar Pagawak. Menurutnya, jika ada transportasi yang baik tentu saja akan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat di Kobakma, khususnya transportasi darat.

Merindukan Angkutan

Sementara itu, ika, (25 tahun) perempuan asli Kobakma yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kobakma kepada TSPP bercerita ketika ia hendak ke Kobakma dari Wamena menggunakan mobil angkutan jenis L200,dengan ongkos perorangnya Rp 100 ribu dari kota Wamena ke Pasfale bersama beberapa teman kerjanya, sampai di Pasfale Kabupaten Yalimo, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki mengikuti jalan setapak, mendaki bukit, lereng dan menyeberangi sungai yang lebar. Biasanya mereka berangkat pagi sampai di Kobakma malam, seharian penuh berada di belantara hutan menapaki bukit, dan menuruni jurang terjal dan lebah sepanjang perjalanan menuju Kobakma.

Saat liburan berakhir Ika dan teman-teman harus kembali dengan cara yang sama, karena ongkos tiket dari Wamena-Kobakma Rp 2,3 juta.” harga segitu terlalu mahal jadi saya dan teman-teman, kita memilih jalan kaki saja” kenang ika. Harga tiket dari Kobakma-Wamena Rp 350 ribu. Dari wamena ke Kobakma mahal”saya dan teman-teman lebih memilih jalan kaki saja” ujar wanita asal Kelila ini. Ika berharap agar ada jalan tembus-ke Kobakma sehingga tidak lagi ikut jalan setapak ditengah hutan.Jalan tembus ke kobakma supaya kita bisa naik angkutan sampai di kobakma.
_________________________________________
Sumber: Tabloit Suara Perempuan Papua
Penulis: Alfonsa Wayap, Gabriel Maniagasi

Pemkab Mamteng Susun RTBL di 3 Distrik

JAYAPURA – Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) untuk 3 distrik di Kabupaten Mamberamo Tengah (Mamteng), yaitu Distrik Kelila, Taria dan Kobakma sebagai ibukota kabupaten, maka Pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mamberamo Tengah melakukan persentase laporan awal untuk RTBL tersebut.


Dalam kesempatan itu, Penjabat Bupati Mamberamo Tengah, David Pagawak, S.Sos mengatakan, seminar ini dalam rangka menyusun RTBL untuk 3 distrik dan rencananya tahun depan akan disusul dengan 2 distrik yaitu Distrik Ilugwa dan Eragayam.

”RTBL disusun lebih awal sebelum membuat rencana tata ruang kota di masing-masing distrik. Itu sebabnya sebelum membangun ruas-ruas jalan dalam distrik, harus membuat RTBL,”ungkapnya kepada wartawan usai membuka seminar persentase laporan awal RTBL di Hotel Mutiara, Kamis (24/6) kemarin.

Diungkapkan, ini adalah bagian dan turunan dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Tata Ruang Kawasan (RTRK) yang sudah disusun tahun 2009. Untuk itu, sekarang menyusun RTBL di masing-masing distrik, sehingga masing-masing distrik benar-benar tertata dan terencana dengan baik.

Artinya, mempunyai peruntukan dimana ada kawasan distrik pemukiman rakyat, ada perkantoran, pertanian, kawasan hutan lindung bahkan ke depan akan membangun industri maka semua harus direncanakan.
Bupati mencontohkan, hasil minyak buah merah yang saat ini sedang dalam tahap kerjasama dengan China untuk pembuatan obat melalui minyak buah merah, baik itu obat suplemen, sirup, obat medis yang bisa menyembuhkan penyakit tertentu maka itu rencana ke depan bisa ada pabrik buah merah. ”Inilah yang letaknya akan dipelajari lewat seminar RTBL dimana pembahasannya mengarah ke sana,”ujarnya.(nal/ary)
_____________________________
Sumber: Cepos
Edisi: 25 Juni 2010 07:08:52

Rugi 85 Milyar, DPRD Mamteng Akan Panggil Pimpinan SKPD dan Pengusaha


Agus_GundigiJAYAPURA – Wakil ketua I DPRD Kabupaten Mamberamo Tengah, Provinsi Papua Agustinus Gundigi akan memanggil para pimpinan satuan perangkat kerja daerah dan para pengusaha yang terlibat proyek penggunaan dari APDB 2012 yang dinilai BPK terjadi penyelewengan sebesar Rp85 miliar lebih. “Berdasarkan laporan audit dari BPK terhadap sejumlah proyek di Mamberamo Tengah pada 2012 telah terjadi penyelewengan dana sebesar Rp85 miliar lebih. Maka kami akan panggil para pimpinan SKDP dan pengusaha yang terlibat dalam penggunaan dana-dana proyek tersebut,” kata Agustinus saat berada di Jayapura, Papua, Sabtu.
Ia mengatakan pemanggilan para pimpinan SKPD dan pengusaha tersebut dimaksudkan untuk mempertanyakan penggunaan dana proyek yang dikerjakan didaerah tersebut. “Kami ingin tahu sebenarnya penyerapan dananya sejauh mana dengan hasil dilapangan. Apalagi hasil audit dari BPK didapatkan ada dana puluhan miliar yang tidak jelas penggunaanya,” katanya.
 
Menurut alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Umel Mandiri Jayapura penggunaan anggaran yang tidak jelas tersebut berdampak pada terlambatnya pembangunan didaerah tersebut dan yang akan dirugikan adalah masyarakat Mammberamo Tengah karena kesejahteraan mereka tidak meningkat. “Yah itu, ujung-ujungnya masyarakat dan negara yang dirugikan. Kami akan segera lakukan koordinasi dengan Bupati Ham Pagawak agar mengevaluasi ulang proyek-proyek di Mamberamo Tengah,” katanya.

Dari literatur yang didapatkan Antara, Kabupaten Mamberamo Tengah dibentuk pada 4 Januari 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan 5 kabupaten lainnya di Papua. Dan secara resmi dilakukan oleh Mendagri Mardiyanto pada 21 Juni 2008. Terhitung sebelum terpilih dan dilantiknya Bupati Ricky Ham Pagawak dan wakilnya Yonas Kenelak pada bulan lalu, Kabupaten Mamberamo Tengah yang beribu kota di Kobakma telah tiga kali mengganti caretaker bupati, diantaranya David Pagawak, JKH Rumbiak dan Ayub Kayame. (ant/achi)
____________________________________
sumber: Bintang Papua

Ada Kesenjangan Ekonomi Papua dan ‘Pendatang’

Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai di Kota Sorong, Papua Barat

Sorong – Telah terjadi kesenjangan ekonomi antara warga asli Papua dan pendatang (non Papua).
Paulus Komenau, peserta Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai yang diselenggarakan oleh Aliansi Demokrasi untuk Papua di Kota Sorong, Papua Barat, Sabtu pekan lalu mengatakan, kesenjangan itu dapat dilihat dengan kurangnya orang Papua mempunyai los di pasar. “Jadi pengemis. Pemerintah sekarang lebih buruk dari pemerintah Belanda,” ujarnya.

Komenau juga menyayangkan kebijakan Otonomi Khusus, banyak dananya tapi tidak bisa membantu anak-anak untuk bersekolah. Fatimah tokoh perempuan dari Sulawesi Selatan mengungkapkan, benar adanya warga asli Papua tak memiliki los. “Saya sepakat kalau kita mencermati pasar, memang hampir sebagian besar tidak ada los buat orang Papua dan ini harus dijawab oleh kita semua,” ucapnya.
Ia menambahkan, sebagai perantau asal Sulawesi, dirinya berjuang untuk hidup di Sorong. Ia berusaha pula menghargai hak-hak warga Sorong. “Mungkin pendatang terlalu berlebihan di Tanah Papua, perlu kesadaran dari pendatang, membangun Papua dengan saudara orang asli Papua,” katanya lagi.
Fatimah lahir dan besar di Papua. “Sehingga saya merasa miris karena di Papua masih penuh masalah dan konflik, bagaimana kita bisa hidup.”

Dengan melihat kesenjangan ekonomi antara Papua dan pendatang, Fatimah setuju perlu ada perhatian yang lebih serius dari pemerintah. “Orang Papua perlu diberikan ruang, kesempatan dan modal untuk bisa mandiri, Otsus yang diberikan tidak sampai ke masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah di Papua perlu disoroti media. “Media tidak boleh takut. Pemberantasan korupsi menjadi titik awal untuk mensejahterakan,” pungkasnya. (Tim/AlDP)

SBY Janji Kembangkan Ekonomi Papua

Senin, 30 September 2013 19:35 wib
Fakhri Rezy - MTS
ilustrasi: foto (okezone)  
ilustrasi: foto (MTS)
 
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, pemerintah terus mengembangkan Provinsi Papua, khususnya dalam bidang ekonomi. Hal tersebut disampaikan langsung kepada Perdana Menteri Australia Tony Abbot.

"Papua, saya sampaikan ke Perdana menteri, kebijakan Indonesia untuk mengelola Papua sudah sangat jelas, pendekatan kesra, keadilan dan demokrasi. Karena itulah solusi yang paling baik dan saya sampaikan ke beliau sebagai contoh pembangunan per kapita seluruh Indonesia, paling tinggi untuk Papua," ujar SBY di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/9/2013).

Susilo mengatakan, pemerintah indonesia tulus dan serius untuk majukan perkembangan di Papua. Tentu ada masalah struktural dan lokal yang harus di kelola pemerintah.

"Negara Indonesia demokrasi, tentu masalah ekspresi di Papua bagian dari demokrasi, papua adalah bagian integral dari NKRI, kedualatan Indonesia mencakup Papua itulah keutuhan Indonesia. Saya senang Australia menghormati kedualatan kami. Indonesia ambil tanggung jawab penuh masalah Papua dengan baik dan bijak dengan pendekatan ekonomi," ujar Susilo. (wdi)

Tambah Kelembagaan di Mamteng, Diharap Mampu Bangun Ekonomi

JAYAPURA [PAPOS] – Forum Masyarakat Peduli Pembangunan Mamberamo Tengah berharap kepada Penjabat Bupati Mamberamo Tengah, Drs. Ayub Kayame, MA agar dengan diangkatnya kepala SPKD yang baru dan menambah kelembagaan, mampu juga membangun struktur perekonomian di Kabupaten Mamberamo Tengah.
Anggota Forum Masyarakat Peduli Pembangunan Kabupaten Memberamo Tengah, Yarnus R. Wea, SE Kamis (13/10), saat bertandang ke Redaksi Papua Pos mengatakan, sebagai bentuk kepedulian akan pembangunan di Mamberamo Tengah, masyarakat melakukan aksi menutup dan memalang kantor bupati. Tetapi aksi masyarakat itu terhenti setelah Bupati Mamberamo tengah memberikan solusi akan melakukan penambahan kelembagaan.
“Kami menggangap yang terjadi di Kabupaten Mamberamo Tengah ada 3 persoalan. Antara lain dana, peralatan dan pegawai-pegawainya yang belum lengkap,” kata Yarnus. Kata dia, solusi dari penjabat bupati yang akan menambah kelembagaan kantor kurang efektif, lantaran pegawai-pegawai yang lama kerjanya masih kurang dari harapan. Itulah yang menjadi kendala pada Kabupaten Mamberamo Tengah belum maksimal dalam pembangunan.
Lebih jauh dikatakan Yarnus, ia menginginkan agar DPRD Mamberamo Tengah mengambil langkah mengatasi persoalan ini. Ia menilai penjabat bupati bekerja sendiri tanpa adanya sidang dari DPRD Mamberamo Tengah untuk mengambil keputusan dalam pemerintah Kabupaten Mamberamo Tengah. Kata dia, hal itu menjadi kewenangan DPRD, bukan bupati bila ingin menambah struktur dan lembaga yang baru.
Yang lebih anehnya lagi, kata dia, DPRD Mamberamo Tengah juga kebanyakan menghabiskan kegiatan-kegiatan di luar daerah seperti Jayapura, ketimbang mengurus daerah sendiri. Padahal banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan segera. “Sebagai bentuk permintaan kami dari Masyarakat Kabupaten Mamberamo Tengah supaya anggota DPRD segera selesaikan permasalahan daerah, jangan terlalu berfoya-foya menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi,” ungkapnya. [tom]
__________________________________
Sumber: Papua Pos

Archive

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *